
Pandji Pragiwaksono
JawaPos.com - Lawakan komika Pandji Pragiwaksono sekitar 2013 silam dalam acara "Mesakke Bangsaku viral kembali beberapa waktu belakangan karena dianggap melecehkan adat Toraja. Alhasil, dia pun sempat dikenakan sanksi untuk membayar uang Rp 2 miliar, 48 kerbau, dan 48 babi oleh lembaga adat Tana Toraja Sulawesi Selatan, Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST).
Terkait sanksi bernilai fantastis tersebut, Pandji Pragiwaksono memberikan tanggapan. Dia menyebut sanksi adat tersebut diputuskan di luar prosedur yang semestinya sehingga tidak harus diikuti.
"Bukan hanya belum final ya. Menurut Ibu Rukka Sombolinggi, ini tidak akurat," kata Pandji Pragiwaksono saat ditemui di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (13/11).
Sanksi yang tidak akurat tersebut diperoleh Pandji berdasarkan hasil komunikasinya dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Dari sana, Pandji jadi tahu bahwa proses penjatuhan sanksi dilakukan di luar prosedur adat yang seharusnya dilakukan.
"Menurut beliau (Ibu Rukka) kurang tepat harus memberikan 96 satwa dan uang sebesar itu. Karena dialog harus dilakukan bersama dengan perwakilan 32 wilayah adat Toraja. Kalau dialognya saja belum ada, hukumannya berarti belum ada," ungkap Pandji Pragiwaksono.
Untuk kasus yang saat ini menjeratnya, Pandji percaya dengan keterangan yang disampaikan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara kepada dirinya. Pasalnya, mereka jauh dinilai lebih tahu dan mengerti terkait seluk beluk adat dan tradisi di Tanah Air.
Pandji menegaskan bahwa dirinya telah meminta maaf kepada masyarakat dan tokoh adat Toraja atas pernyataannya yang menyinggung saat menyampaikan stand up comedy pada 2013 silam.
"Saya sadar bahwa saya ada sisi ignorant dalam penulisan joke. Tapi dalam hati saya tidak ada maksud untuk menyinggung masyarakat Toraja. Saya meminta maaf kepada masyarakat Toraja yang tersinggung," ungkapnya
Sebelumnya, Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) mendesak Pandji Pragiwaksono untuk minta maaf gara-gara materi stand-up comedy yang dibawakannya dianggap melecehkan budaya dan adat Toraja dilakukannya pada 2013 silam.
Materi stand-up comedy yang dipersoalkan masyarakat Toraja ada dua hal. Keduanya dinilai tidak pantas untuk dibawakan oleh Pandji karena tidak menghormati budaya Toraja.
"Ada dua hal yang membuat kami terluka. Pertama, pernyataannya bahwa banyak warga Toraja jatuh miskin karena pesta adat. Kedua, jenazah disimpan di ruang tamu atau depan TV. Itu tidak benar dan sangat menyinggung," kata Amson Padolo selaku Ketua PMTI dalam keterangannya.
PMTI menyatakan bahwa tradisi Rambu Solo bukanlah pesta kemewahan sebagaimana diungkapkan Pandji. Itu merupakan sebuah upacara sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk orang yang meninggal dunia.
PMTI menegaskan, upacara itu memiliki makna yang cukup dalam. Selain bentuk penghormatan terakhir, di dalamnya juga terkandung nilai solidaritas, kekerabatan, gotong royong, cinta kasih, hingga penghargaan terhadap kehidupan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
