Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Juli 2017 | 00.46 WIB

Kencan dengan Chicco Jerikho: Ben yang Keluar dari Buku

PASSION TINGGI: Memerankan Ben di franchise Filosofi Kopi, Chicco Jerikho ternyata sudah mencintai kopi sejak usia 5 tahun. - Image

PASSION TINGGI: Memerankan Ben di franchise Filosofi Kopi, Chicco Jerikho ternyata sudah mencintai kopi sejak usia 5 tahun.


JawaPos.com - Mumpung Filosofi Kopi 2: Ben & Jody lagi diputar, sosok Chicco Jerikho, si pemeran Ben, tampaknya asyik dijadikan teman ngobrol. Pria yang mengawali karir sebagai model dan pemain sinetron itu menyatakan, dirinya tidak jauh beda dengan Ben, penggila kopi yang temperamental, tetapi manis. Manis? Mmmm...



---



KAMIS pekan lalu (6/7) Chicco berkunjung ke redaksi Jawa Pos bersama Rio Dewanto untuk mempromosikan Filosofi Kopi 2. Dia tampil grunge. Kaus belel dipadu jaket vintage ala anak muda era 90-an, jins hitam, dan sneakers. Tampaknya, perpaduan busana itu juga dipakai saat berakting sebagai Ben di salah satu adegan Filosofi Kopi 2.



Chicco memang suka dengan style ala Ben. ’’Karakter Ben sama saya memang sama. Kami sama-sama bebas, dinamis, dan ekspresif,’’ ujar Chicco santai. Chicco sangat youthful, ceria, dan kadang kocak. Ngobrol dengannya rasanya seperti berbicara dengan karakter Ben.



Kecintaan Chicco pada kopi pun sama besar seperti Ben. ’’Saya minum kopi sejak usia 5 tahun. Minumnya pakai sendok kecil, disesap dikit-dikit,’’ katanya mengenang. Akrab dengan kopi sejak kecil membuat pria keturunan Batak-Thailand tersebut punya apresiasi yang besar terhadap kopi. ’’Kopi bukan cuma minuman, tapi ada kenikmatan dan nyawa di dalamnya,’’ lanjutnya filosofis.



Seperti kopi yang berevolusi, akting Chicco semakin matang. Dia yang awalnya hanya bermain dalam sinetron berlatar cerita cinta monyet kini sudah semakin kompleks. Peran-perannya di berbagai film menunjukkan kualitas akting yang luar biasa. Misalnya, di film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, A Copy of My Mind, Surat Cinta untuk Kartini, dan tentunya Filosofi Kopi.



Filosofi Kopi 2 menuntut Chicco untuk keluar dari zona nyaman. Emosi yang harus ditampilkan Ben lebih banyak dan fluktuatif. Lawan main Chicco pun bukan hanya Rio, tetapi juga Luna Maya (Tarra) dan Nadine Alexandra (Brie). Ditambah lagi, Chicco harus membawakan OST Sahabat Sejati bersama Rio. ’’Saya selalu ingin keluar dari zona nyaman supaya lebih hidup dan seru,’’ ungkap Chicco.



Pria yang juga gemar menyantap masakan Thailand itu menyebut profesi aktor adalah sebuah perjalanan. Seorang aktor tidak boleh berdiam terlalu lama di suatu tempat dengan karakter yang relatif sama. Harus ada suatu hal yang berbeda antara peran satu dan lainnya. Perbedaan karakter Ben di Filosofi Kopi pertama dan kedua merupakan salah satu contoh bagi Chicco.



Kini, setelah memerankan Ben di dua film, Chicco khawatir tidak bisa lepas dari tokoh tersebut. Bahkan, Dewi Lestari sebagai penulis cerpen Filosofi Kopi sekaligus kreator karakter Ben mengakuinya. ’’Kata Mbak Dee, saya dan Rio benar-benar seperti Ben dan Jody yang keluar dari buku,’’ ucap Chicco, lantas tertawa. Dia sangat bangga bisa memenuhi ekspektasi Dewi dengan aktingnya.



Sebagaimana di film, Chicco dan Rio mengelola bisnis kedai Filosofi Kopi di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Kedai dibuka pada 2015, tepat setelah film pertama Filosofi Kopi dirilis. Sebuah kedai baru di Jogjakarta juga telah dibuka menjelang perilisan film kedua pada awal Juli. Chicco mengatakan, dalam hal pengelolaan kedai, dirinya dan Rio pun sama seperti Ben dan Jody.



Di film, Ben mengurus kualitas kopi dan manajemen barista. Sementara itu, Jody menangani pengembangan dan rencana bisnis serta perhitungan uang. Hal tersebut terwujud dalam manajemen kedai mereka. Chicco lebih banyak berkutat dengan biji kopi, pemilihan bahan, dan alat-alat pembuat kopi. Adapun Rio serius dengan rencana pengembangan kedai, investor, dan pembukaan cabang.



Chicco menuturkan bahwa dirinya juga seantusias Ben ketika meracik kopi. Intuisinya bekerja ketika menyeduh, menakar, menghaluskan biji, hingga menikmati secangkir kopi. ’’Ketika bikin kopi, saya benar-benar mengandalkan feeling. Perhitungannya sedikit,’’ katanya. Menurut Chicco, ketika sudah terbiasa membuat kopi, takaran bahan tidak perlu dipusingkan supaya kopi terasa lebih nikmat dan apa adanya.



Di lain waktu, Chicco juga menyempatkan diri melayani pembeli yang datang ke kedainya. Baik sebagai barista maupun pelayan. ’’Chicco manis banget kalau melayani pembeli,’’ kata Rio, lantas tertawa. Sebelumnya, pada 2015 Chicco mengambil kursus lima hari di ABCD School of Coffee di kawasan Pasar Santa, Jakarta Selatan. Ilmu dan pengalaman dari sana terus dijaga sampai sekarang.



Sesekali menjadi barista di kedai sendiri sangat dinikmati Chicco. Bagi dia, barista punya kesamaan dengan aktor. Yakni, sama-sama punya sisi seni, berguna untuk orang lain, serta ada unsur hiburannya. ’’Ketika saya jadi barista, beberapa pengunjung terhibur dengan proses pembuatan kopi,’’ papar Chicco, lantas tertawa. Kalau sudah begini, siapa yang tidak ingin dibikinkan kopi oleh Chicco... (len/c15/na)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore