
Dari kiri, Fitri Tropica, Cak Lontong, Mo Sidik, Bedu, dan Akbar.
Gergetan, gemas, tapi juga tertawa ngakak. Pernah merasakan semua itu sekaligus? Jika iya, sangat mungkin Anda sedang menyaksikan Waktu Indonesia Bercanda (WIB). Program acara yang dibawakan Cak Lontong tersebut kini jadi idola.
---
SELASA siang (7/3), Jawa Pos berkesempatan melihat tapping WIB di Studio PSI, Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan. "Kalau anak pertama dipanggil..." ujar Cak Lontong kepada peserta kuis Teka-teki Sulit (TTS).
Bedu, Insan Nur Akbar, Mo Sidik, dan DJ Yasmin berusaha menjawab. Ada yang bilang "sulung", ada pula yang meneriakkan "sayang". Salah semua!!! Jawaban yang benar adalah "datang". Cak Lontong lantas menjelaskan dengan mimik dan nada serius. "Anak pertama kalau dipanggil kan langsung datang ke kita," ujarnya.
Sontak sekitar 60 penonton di studio tertawa. Namun, berbeda halnya dengan Bedu. Komedian 38 tahun itu tidak terima dan marah-marah. "Penjelasan apaan tuh?" katanya, sewot. Tentu marahnya bercanda. Sebab, penonton tergelak begitu melihat Bedu meneriaki Cak Lontong.
Bukannya balas memarahi, Cak Lontong dengan cool memberikan argumennya. Secara logika, penjelasan pria asal Surabaya tersebut masuk akal. Berkali-kali dimarahi Bedu dan Akbar, Cak Lontong tetap santai. Emosi Bedu dan Akbar serta nalar Cak Lontong itu memang menjadi daya tarik acara selain jawaban nyeleneh dari kuis-kuis WIB.
Begitu sukses memandu WIB, Cak Lontong yang bernama asli Lies Hartono tersebut kerap disebut maskot acara. Mendengar hal itu, pria 46 tahun itu bergaya terkejut. "Lho, maskot itu kan benda mati?" ujarnya, lantas tertawa, ditemui setelah tapping.
Menurut Cak Lontong, yang membuat WIB lucu adalah kolaborasi dirinya dengan cast lain. "Kami di sini jadi satu tim yang tugasnya bikin orang tertawa. Tidak ada yang jadi cast utama," katanya.
Awalnya, konsep WIB adalah program komedi berisi pemberian motivasi dan sketsa. Setelah berjalan hampir setahun sejak tayang April 2015, format berganti menjadi kuis. "Pergantian dilakukan setelah melihat segmen kuis di salah satu episode. Rating-nya cukup tinggi," terang Muhammad Y. Sandy, produser WIB.
Semua kuis yang diadakan memiliki satu kesamaan. Jawabannya cenderung nyeleneh, kocak, tapi masuk akal. Penonton yang mendengarnya sangat mungkin ikut kesal seperti Bedu. ''Udah mikir sulit-sulit, eh jawabannya bener-bener belok. Saya yakin penonton di rumah juga emosi gara-gara jawaban kuis yang bikin pusing," kata Bedu.
Karena itu, Cak Lontong memberikan peringatan. "Buat yang punya darah tinggi, hati-hati. Jangan terbawa emosi pas nonton ini. Namanya saja Waktunya Indonesia Bercanda," ucapnya, kemudian terbahak.
Kelucuan terbentuk dari interaksi cast yang mendiskusikan jawaban kuis. Seluruhnya berjalan natural tanpa skenario. "Kami sama sekali tidak merencanakan apa-apa lho. Tim kreatif cuma mengarahkan hal teknis," ungkap Cak Lontong.
Khusus Cak Lontong, dirinya mendapat brifing dua kali. Setelah brifing urutan segmen bersama cast lain, ayah dua anak itu mendapat brifing jawaban kuis beserta penjelasannya. "Saya ikut sumbang ide. Misalnya, ada penjelasan jawaban yang kurang, saya beri masukan agar lebih lucu dan logis," jelasnya.
Para cast sama sekali tidak mengetahui jawaban dari kuis yang dimainkan. Mereka harus benar-benar berpikir. Untuk konsep dan pertanyaan kuis, tim kreatif hampir setiap hari melakukan brainstorming. "Pokoknya, seminggu sebelum tapping, kami berunding untuk bikin pertanyaan, jawaban, dan penjelasan kuis," terang Boniex Nurwega, anggota tim kreatif.
Selain Bedu, Akbar, dan Peppy, sejumlah komika sering diundang secara bergantian. Di antaranya, Ge Pamungkas, Arie Kriting, Mo Sidik, dan Denny Chandra. "Komika atau bintang tamu yang kami pilih harus punya kapasitas komedi yang cerdas serta mau berusaha menjawab," tutur Sandy.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
