
Koleksi Kain Tenun Dayak Iban di Jakarta Fashion Week
JawaPos.com - Satu karya menjadi hadiah dari ajang Jakarta Fashion Week 2018. Koleksi kain nusantara membuat masyarakat semakin mencintai warisan budaya, salah satunya kain tenun Dayak Iban khas Kalimantan Barat. Kain itu diperkenalkan oleh Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK).
Keindahan kain tenun tradisi Dayak Iban itu diolah dalam balutan busana nan indah karya Yurita Puji untuk label Yurita Puji dan Temma Prasetio untuk brand busana pria, Mandhari. Yurita menghadirkan kain tenun yang didominasi dengan warna cokelat, cream, biru, dan abu-abu yang dipadankan dengan kain dari Maxistyle Novus dan Zhivago.
Beragam desain ditampilkan dengan wujud dress, outer, jas, celana, rok, dan padanan blus. Keindahan koleksi tenun Dayak Iban semakin terlihat total dengan padanan aksesori Miss Mysa yang terbuat dari keindahan bulu-bulu burung menjadi inspirasi aksesori dengan sentuhan modern dan dipadukan dengan mutiara air tawar.
Mutiara dipilih sebagai bahan utama karena banyak dihasilkan di Indonesia seperti Lombok, Maluku, dan Papua. Koleksi itu dipadukan manis dengan tenun ikat Dayak Iban dari Kalimantan Barat dengan motif yang indah.
“Tenun ikat Dayak Iban berwarna alam lebih dari sekadar komoditas usaha kecil rakyat bernilai ekonomi. Bagi warga Dayak Iban, tenun ikat ini juga merupakan simbol ekspresi dan ritual budaya yang diwariskan turun-temurun,” kata Direktur ASPPUK Mia Ariyana dalam keteranga tertulis, Selasa (31/10).
ASPPUK merupakan lembaga yang menjadi mitra Tropical Forest Conservation Action (TFCA) for Kalimantan-Yayasan KEHATI, untuk proyek pendampingan warga Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mereka fokus dalam pengembangan dan pemanfaatan tanaman pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban. Ada lima desa dampingan ASPPUK dalam proyek ini, yakni Desa Lanjak Deras, Mansiau, Sungai Abau, dan Labiyan (keempatnya di Kecamatan Batang Lumpar), serta Desa Manua Sadap di Kecamatan Embaloh Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.
Sejak 2015, TFCA Kalimantan-KEHATI bersama ASPPUK berupaya mengembangkan pengetahuan tentang pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban di lima desa dampingan, masing-masing di Kecamatan Batang Lupar dan Embaloh Hulu. Ke depan, tenun ini akan semakin dipopulerkan ke mancanegara.
“Kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pewarna sebagai bahan dasar pembuatan tenun ikat, diharapkan akan menjaga keberlanjutan lingkungan dan kelangsungan tradisi budaya tenun ikat Dayak Iban,” ujar Direktur TFCA Kalimantan Puspa Dewi Liman.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
