
Tampilan depan Istana Ibu Kota Negara Baru (Kementerian PUPR)
Tim Urban Plus pimpinan Sibarani Sofian dinyatakan sebagai pemenang pertama sayembara gagasan desain ibu kota negara (IKN) pada 23 Desember lalu. Kata Nagara, Rimba, dan Nusa bukan sekadar jargon. Namun sebuah mindset pembangunan yang benar-benar belajar dari alam. Terutama dua unsur terbesar di Nusantara, yakni hutan dan lautan.
TAUFIQURRAHMAN, Jakarta, Jawa Pos
---
SEMENTARA sembilan orang tim Urban Plus menunggu di Jakarta, Rahman Andra Wijaya, seorang ahli lanskap turun ke Penajam Paser Utara melalui Pelabuhan Tanjung Maridan bersama puluhan arsitek dan perancang ibu kota yang berlomba untuk memenangkan desain akhir tahun lalu.
Peluit lomba gagasan desain ditiup. Ratusan foto dikirimkan oleh Rahman untuk timnya di Jakarta. Dari foto-foto itu, tim Urban Plus yang dipimpin dua master planner urban design, Sibarani Sofian dan Ardzuna ”Angga” Sinaga mengusap kening. Medan yang akan mereka hadapi sangat berat.
Bagaimana tidak, di sebelah barat dan utara, perbukitan dengan elevasi yang naik turun tidak teratur. Di timur, ada Bukit Tahura Soeharto yang luas dan datar. Namun, kalau mereka memutuskan membangun di situ, ratusan bahkan ribuan pohon harus ditebang.
Sempat terpikir untuk berpindah agak ke selatan. Namun, ternyata juga mentok pada daerah hulu Teluk Balikpapan, tempat ekosistem mangrove dan habitat bekantan liar.
Tantangan pertama yang ditaklukkan Sibarani dkk adalah menemukan sebuah titik sebagai jangkar wilayah tempat mereka akan menempatkan IKN. Ada dua lokasi potensial, satu di wilayah perbukitan di sebelah utara, tempat Presiden Jokowi menginjakkan kaki dan berfoto dengan menteri PUPR beberapa waktu lalu. Satu lokasi lain, konturnya datar, akses bagus, air lumayan tercukupi, sudah ada sumbu wilayah berupa Jalan Raya Samboja-Sepaku.
Namun, ada satu titik lain yang menarik perhatian tim. Di titik dekat percabangan sungai Balikpapan. Di dekat sebuah pulau yang berbentuk unik. Orang-orang sekitar menyebutnya Pulau Tanjung Hati atau Love. Tapi, tim belum tahu namanya saat itu.
Photo
PEMENANG SAYEMBARA DESAIN: Dari kini, Arzuna Sinaga Sibarani Sofian, dan Rahman Andra Wijaya berfoto bersama di kantor mereka. (Imam Husein/Jawa Pos)
Daerah ini memiliki tangkapan air yang sangat bagus. Tanpa mengebor dan mengisap air tanah pun, wilayah tangkapannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kota sepanjang tahun. Dibantu dengan air sungai yang memang tawar.
Sibarani pun menjelaskan situasinya. “Memang bisa kita memilih sektor perbukitan di utara. Mengandalkan air dari Waduk Semoi dan Bendungan Batu Lepek. Tapi, keduanya kan proyek jangka panjang. Ini tahun 2024 harus sudah ada istana, DPR, permukiman, dan lain-lainnya. Jadi, kalau tahun itu kita buka keran ndak muncul air, kan gimana?” paparnya.
Mengebor air tanah? Sibarani menggeleng. Itu akan melawan prinsip ramah lingkungan yang dijunjung seluruh tim. Perhatian kembali tertuju pada delta Pulau Hati. Air akan melimpah karena kawasan di sebelah baratnya dipeluk lengkungan sungai Balikpapan yang berbelok ke arah Barat. Air akan mengalir dari lahan perbukitan tinggi di sebelah barat. “Sistem tributary dan reservoir-nya bagus sekali,” kata Sibarani saat itu.
Namun, Angga memperingatkan, wilayah itu dekat sekali dengan hulu sungai, mangrove, dan habitat bekantan. Menyentuhnya harus dengan hati-hati. Salah perhitungan sedikit, desain IKN mereka bisa mengacaukan sistem aliran sungai, air hujan, sampai vegetasi. “Kalau kita ambil titik ini, berarti kita siap kalah loh?” tantang Angga kepada tim.
Tim pun sepakat mengambil langkah nekat menempatkan jangkar desain mereka pada Pulau Hati. Selanjutnya menentukan sumbu wilayah. Sibarani sempat juga mengukur-ukur arah kiblat. “Maksudnya biar ada unsur ketuhanannya gitu,” jelasnya, lalu tersenyum.
Tapi, akhirnya sumbu wilayah daerah IKN versi mereka mengikuti arah tributary air. Mulai titik tertinggi di barat laut, terus ke tenggara, berakhir di dekat delta Pulau Hati. Di mana mereka akan membangun sudetan dari sungai untuk masuk ke reservoir yang mereka namakan Danau Pancasila, tempat penduduk ibu kota akan menikmati keindahan rimbunan hutan bakau dan sungai.
Apakah tidak akan mengganggu mangrove? Angga menjawab, di dekat Pulau Hati ternyata sudah terlebih dahulu ditanami sawit. Daerah tersebut yang disasar Urban Plus. “Sawit itu ekstraktif. Justru kita mau bangun di situ dengan tanaman-tanaman yang mendukung air,” jelasnya.
Di titik tertinggi, istana negara membelakagi perbukitan. Kata Sibarani, tentu saja menunjukkan Tuhan yang paling tinggi. Istana presiden sebagai eksekutif, kantor MA di selatan, dan kantor DPR di utara membentuk trias politika yang mirip lengan yang terbuka untuk merangkul dan mengayomi rakyat di bawahnya.
Photo

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
