JawaPos.com - PT Wijaya Karya Beton Tbk atau WIKA Beton (Kode saham: WTON) melaporkan telah mengantongi kontrak baru di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, mencapai Rp 612 miliar hingga Juni 2024. Angka ini merupakan 30 persen dari total target proyek yang dibidik sepanjang tahun ini sebesar Rp 7,48 triliun.
Direktur Keuangan, Human Capital & Manajemen Risiko WIKA Beton, Syailendra Ogan memastikan jumlah tersebut berasal dari seluruh proyek di IKN yang dikantongi anak usaha WIKA Beton. Meliputi, PT Wijaya Karya Komponen Beton, PT Citra Lautan Teduh, PT Wikaya Karya Krakatau Beton, dan PT Wijaya Karya Pracetak Gedung.
"Rp 612 miliar untuk keseluruhan yang tahun ini saja, sampai Kuartal II- 2024 atau hingga Juni 2024," kata Syailendra kepada media di Jakarta, Rabu (7/8).
Lebih lanjut, Ogan membeberkan proyek yang diperoleh itu terdiri dari Rumah Dinas Paspampres di IKN hingga jalan tol Seksi 3B KKT Kariangau-Simpang Tempadung sepanjang 7,3 kilometer (km).
Adapun partisipasi dalam proyek ini berupa suplai readymix dan precast yang diambil dari plan milik WIKA Beton yang berada di sekitar IKN. Meski begitu, ke depan pihaknya akan terus membidik proyek IKN yang akan dibangun pemerintah.
Utamanya, seperti jalan tol hingga rumah susun yang akan dibangun untuk Aparatur Sipil Negara (ASN). "Dari rencana yang kita sasar, karena masih ada jalan tolnya, dan ada beberapa rumah apartemen dan ASN yang akan dibangun dengan target yang disasar APBN pemerintah," jelasnya.
Di sisi lain, hingga bulan Juni 2024, WIKA Beton telah mengantongi kontrak baru sebesar Rp 3,36 triliun. Berbagai proyek yang menyumbang performa Perseroan ini didominasi oleh proyek pada sektor infrastruktur sebesar 79,84 persen.
Kemudian, disusul proyek di sektor industri sebesar 7,35 persen. Lalu, properti sebesar 6,68 persen dan sisanya berasal dari sektor kelistrikan, energi, dan tambang masing-masing menyumbang sebesar 5,69 persen, 0,43 persen, dan 0,01 persen.
"Sementara itu, berdasarkan segmentasi kepemilikan, perolehan angka ini didominasi oleh pelanggan swasta sebesar 78,33 persen, disusul perusahaan BUMN lain sebesar Rp 18,03 persen, perusahaan induk WIKA sebesar 2,64 persen, afiliasi WIKA sebesar 0,57 persen, dan pemerintah sebesar 0,43 persen," pungkasnya.