
Diskusi publik bertajuk “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”* di Posto Dormire Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (5/6). (Istimewa)
JawaPos.com - Pengurus Pusat Pemuda Katolik menggelar diskusi publik bertajuk “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI dengan Kompas Pancasila dan Prinsip Magnifica Humanitas (Telaah Dialektis Ensiklik Perdana Paus Leo XIV)”* di Posto Dormire Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (5/6).
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Komisi Hak Asasi Manusia Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Aloysius Budi Purnomo, Pr, Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Sabrang Mowo Damar Panuluh, anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin, Ketua IAIS Dr Lukas, Ketua EcoCamp RD Ferry Sutrisna Wijaya, serta dimoderatori oleh Stefanus Poto Elu.
Ketua Umum PP Pemuda Katolik Stefanus Gusma dalam sambutannya menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) merupakan sarana yang dapat memudahkan kehidupan manusia. Namun, pemanfaatannya harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila sebagai panduan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga:Diduga Kecelakaan Kerja, Pekerja Proyek Ditemukan Tewas di Kantor Kejari Tanjung Perak Surabaya
“AI adalah sarana yang memudahkan kehidupan manusia. Pancasila adalah navigasi yang ideal untuk dijadikan panduan etik dalam pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan masyarakat,” ujar Gusma.
Menurut dia, kemajuan teknologi tidak boleh mengurangi semangat kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan sehingga perkembangan AI harus tetap diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong.
“Jangan sampai kemajuan AI mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong,” katanya.
Dalam paparannya, Sabrang Mowo Damar Panuluh menilai AI merupakan teknologi yang memiliki karakter berbeda dibandingkan teknologi-teknologi sebelumnya. Kehadiran AI, menurut dia, menantang manusia untuk meninjau kembali pemahaman tentang kecerdasan dan entitas.
“Akal imitasi ini adalah teknologi yang naturenya berbeda dengan teknologi sebelumnya. Simbol kecerdasan AI membuat kita perlu berpikir ulang tentang apa itu entitas,” ujar Sabrang.
Ia menambahkan bahwa di tengah melimpahnya informasi yang semakin murah dan mudah diakses, kemampuan kurasi serta berpikir kritis menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan masyarakat.
Sabrang juga mengingatkan bahaya ketika teknologi AI berkembang tanpa kontrol yang memadai. Menurut dia, persoalan utama bukan hanya pada kecanggihan teknologi, melainkan siapa yang mengendalikan teknologi tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
4 Faktor yang Membentuk Kepribadian Introvert Menurut Penjelasan Psikologi
5 Kiat Introvert Menjadi Pemimpin Tangguh Tanpa Harus Mengubah Sifat Alami
Kenaikan Target Bansos 2026: Kemensos Wajibkan Registrasi Ulang Wajah
Jokowi Dikabarkan Deklarasi jadi Ketum PSI Awal November, KDM Disebut Ikut Pindah Gerbong
Ganggu Lingkungan Pemkot Surabaya Segel Usaha Potong Ayam di Tengah Kampung Bratang Gede
Madura United Bidik 3 Poin di Derbi Suramadu, Persebaya Surabaya Wajib Waspada
Tavares Janji Persebaya Tampil Trengginas Lawan Madura United Demi Dongkrak Klasemen
Prediksi Skor Lens vs Paris FC di Liga Prancis: Les Parisiens Kejar Puncak
Prediksi Skor Barcelona vs Real Madrid 26 Oktober 2026: El Clasico Sengit!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022