Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Oktober 2025 | 16.56 WIB

Mengenal Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus dari Lisieux: Dari Anak Bungsu yang Manja hingga Bergabung ke Biara Paling Ketat

Santa Theresia dari Lisieux (littleflower.org/st-therese) - Image

Santa Theresia dari Lisieux (littleflower.org/st-therese)

JawaPos.com - Gereja Katolik memiliki banyak sekali orang suci yang juga dikenal sebagai pelindung gereja. Mereka memiliki peran besar dalam gereja melalui banyak hal yang kemudian menjadi hal untuk mengingat mereka.

Orang-orang ini mungkin semasa hidupnya adalah misioner, martir, penyebar agama, pelayan umat dan gereja, atau peran besar lainnya sesuai dengan kisah hidup mereka.

Seorang biarawan atau biarawati dapat menjadi pelindung gereja pula, apabila mereka memiliki peran besar terhadap gereja.

Seperti Santa Theresia dari Lisieux (1873-1897), ia juga dikenang sebagai Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus serta Bunga Kecil Yesus.

Kehidupan awal

Dilansir dari Society of the Little Flower, Theresia lahir dengan nama Marie Francoise Therese Martin di Alencon, Prancis, pada 2 Januari 1873. Ia juga adalah anak terakhir di keluarganya.

Kedua orang tuanya juga adalah orang-orang penting dalam gereja, yakni Louis Martin dan Marie Azelie (Zelie) Guerin. Mereka juga adalah santo dan santa Gereja Katolik.

Louis dan Zelie melahirkan sembilan anak, tujuh perempuan dan dua laki-laki. Namun hanya lima anak perempuan mereka yang dapat hidup hingga usia dewasa, dan semuanya menjadi biarawati.

Selain Therese, dari yang tertua ada Marie Louise, Marie Pauline, Leonie, dan Celine. Empat dari mereka kemudian menjadi biarawati di Ordo Karmel di Lisieux, sedangkan Leonie bergabung dengan Ordo Visitandine di Caen.

Therese lahir setelah kakak-kakaknya meninggal, namun dengan tubuh yang lemah. Sehingga dokter-dokternya sangat mengkhawatirkan apakah Therese dapat beranjak dewasa. Bahkan keluarganya sudah bersiap untuk menyambut kematiannya.

Tapi Therese berhasil membuktikan bahwa dokter-dokternya salah dan dapat bertumbuh besar. Ibunya mendeskripsikan masa kanak-kanaknya sebagai anak yang nakal, keras kepala, namun sangat pintar.

Dilansir dari Catholic.org, sayangnya kebahagiaan keluarga Martin ini tidak bertahan lama pula. Karena saat Therese berumur 4 setengah tahun, ibunya meninggal karena kanker payudara. Setelah itu, Louis membawa putri-putrinya pindah ke Lisieux.

Pauline, kakaknya, kemudian menjadi ibu keduanya. Tapi Therese juga harus mengalami kehilangan yang kedua kalinya ketika Pauline bergabung ke Biara Karmel lima tahun kemudian.

Pada 1881, Therese mulai bersekolah di Notre Dame du Pre oleh Biarawati Benediktin di Lisieux. Selama disana Therese tidak menyukai sekolah walaupun ia berbakat secara akademik, karena ia mengalami perundungan.

Mengalami penyembuhan

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore