Rumah ngaji yang sebelumnya rusak parah, berhasil direnovasi dan jadi layak untuk belajar Alquran
JawaPos.com - Kegiatan belajar membaca Alquran tidak hanya lembaga-lembaga formal. Tetapi juga dilakukan di rumah-rumah kecil, atau biasa disebut rumah ngaji. Di beberapa lokasi, kondisi rumah ngaji cukup memprihatinkan karena faktor ekonomi.
Kondisi tersebut disampaikan Head of Program lembaga sosial Golden Future Indonesia Muhammad Ebrian. Dia menjelaskan keberadaan rumah ngaji itu sangat penting. Karena tidak hanya mengajarkan baca tulis Alquran. Tetapi juga untuk mencintai Alquran.
Ebrian bersyukur bisa ikut membantu merenovasi rumah ngaji yang nyaris roboh. Dia menjelaskan saat ini mereka sudah merenovasi dua unit rumah ngaji di kawasan Sukabumi. Aksi serupa bakal dilakukan di daerah lainnya. "Alhamdulillah, saat ini kita sudah membangun kembali rumah ngaji yang hampir ambruk, di Wilayah Sukabumi dan tim kami terus melakukan assement di tempat lainnya," katanya kepada wartawan Jumat (6/10).
Menurutnya program renovasi dan pembangunan rumah ngaji akan dilakukan di banyak tempat. Tidak hanya di daerah Sukabumi. Dia mengungkapkan banyak rumah ngaji kondisinya rusak karena faktor ekonomi, keterbatasan, serta akses yang sulit.
Dia menceritakan, proses pembangunan renovasi rumah ngaji ini berawal saat tim melakukan penilaian lapangan. Tim kemudian melihat bangunan yang rapuh tapi masih di tinggali. Bahkan digunakan untuk anak-anak mengaji dan belajar Al-Qur’an. Selain itu santri-santri di lokasi tersebut juga sering digunakan menginap di rumah ngaji tersebut.
Menurutnya, program renovasi rumah ngaji agar masyarakat mengenal kondisi sosok inspiratif yang memberikan segalanya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama. Selain di sekolah dan TPQ yang ada pada umumnya. Harapannya masyarakat ikut tergerak untuk membantu memberikan fasilitas yang lebih layak dan nyaman. "Karena sejauh ini banyak yang jauh dari kata layak," tuturnya.
Ebrian mengatakan, mereka juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berkontribusi. Yaitu dalam program renovasi atau pembangunan rumah-rumah ngaji yang sulit di akses. Dia menegaskan pembangunan fisik di masyarakat, tidak hanya soal jalan dan jembatan saja. Tetapi juga pembangunan SDM, diantaranya pendidikan keagamaan.