Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 April 2023 | 23.25 WIB

Mengenal Satiti Kuntari, Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan Anak

PASSION MENGEDUKASI: Satiti Kuntari (kiri) bersama anak-anak saat perayaan Hari Anak Nasional di desa binaan, Wonomiati, Krembug, Sidoarjo, tahun lalu.

Purnatugas di usia 65 tahun sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair tak lantas membuat drg Satiti Kuntari MS SpKGA (K) berdiam diri di rumah. Dua kali dalam sepekan dia pergi pulang Surabaya–Kediri untuk mengajar.

---

SATITI menerima tawaran untuk mengajar di Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata, Kediri. Bagi dia, bertemu dengan mahasiswa membuat awet muda. ”Mumpung masih bisa berbagi ilmu. Saya itu senang ngajar, ketemu mahasiswa. Jadi terasa muda. Daripada di rumah pakai daster,” beber perempuan yang kini berusia 67 tahun tersebut.

Tentu mengajar di usia senior tak sama dengan ketika muda. Sekarang terasa lebih mudah capek. Sebab, pembelajaran sudah kembali diadakan secara luring. Mau tak mau Satiti bolak-balik Kediri. Namun, dia menganggap pekerjaan sebagai kesenangan. ”Awalnya kan masih daring, jadi nggak terlalu capek. Ya, dinikmati saja,” kata dokter gigi anak itu.

Di sela rutinitas mengajar, ibu dua anak tersebut tetap aktif berkegiatan di beberapa organisasi sosial yang diikutinya. Mayoritas concern di bidang pendidikan dan kesehatan anak. Mulai Swayanaka, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) Jawa Timur, hingga Pita Putih Indonesia (PPI) Jawa Timur.

”Salah satu passion saya adalah berorganisasi. Apalagi kalau organisasi sosial karena di situ kita bisa bertemu dengan banyak teman dan macam-macam problema di masyarakat, terutama untuk anak-anak. Saya memang suka anak-anak,” ungkapnya.

Sekitar sepuluh tahun Satiti menjadi bagian dari YKAI Jawa Timur dan kini menjabat ketua. Selama itu pula dia mengikuti beragam kegiatan. Mulai edukasi dan pemeriksaan kesehatan, membuat program dengan menggandeng pemerintah daerah, hingga memiliki desa binaan di Wonomlati, Krembung, Sidoarjo.

”Sempat menurun kegiatannya waktu pandemi. Dua tahun kami tidak bikin aktivitas. Baru di Hari Anak tahun lalu mengadakan pemeriksaan gigi dan telinga, lomba menyanyi, serta fashion show di desa binaan,” papar nenek empat cucu itu.

Satiti juga menjadi ketua di PPI Jawa Timur. Anak organisasi Pita Putih Internasional itu mendukung kesehatan ibu dengan berkampanye terkait kesehatan reproduksi. ”Kesehatan reproduksi perempuan kan pasti ada hubungannya dengan anak juga. Kemarin kerja sama dengan BKKBN ngadain acara seputar stunting,” jelasnya.

Salah seorang pendiri Swayanaka itu juga sedikit-sedikit masih berpraktik sebagai dokter gigi. Dia tak mau kalah melihat sang suami yang juga dokter masih aktif berpraktik. Apalagi, Satiti terbiasa bekerja di luar rumah. Dukungan suami disebutnya turut berpengaruh. ”Kata beliau, kalau saya memang suka, ya nikmati sebagai sebuah kesenangan,” tuturnya.

Dia begitu menyukai pekerjaan yang kumpul dengan banyak orang dan bertemu dengan orang baru. ”Pikirku ngapain aku di rumah, beliau (suami) saja masih praktik. Intinya, saya senang komunal. Mudah-mudahan, di usia yang sudah ’magrib’ ini, saya masih bermanfaat buat orang lain,” harap pengurus Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) Jawa Timur tersebut. (lai/c14/nor)

KUNCI HIDUP PENUH SEMANGAT ALA SATITI

• Berorganisasi, berkumpul dengan banyak orang

• Bermanfaat bagi orang lain

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore