Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Juni 2018 | 18.34 WIB

Masalah Lingkungan di Indonesia Kian Kompleks, Begini Paparan FAN-IPB

FAN-IPB menyebut ada banyak persoalan terkait pengelolaan lingkungan di Indonesia. Mulai dari persoalan sampah plastik hingga korupsi sumber daya alam - Image

FAN-IPB menyebut ada banyak persoalan terkait pengelolaan lingkungan di Indonesia. Mulai dari persoalan sampah plastik hingga korupsi sumber daya alam

JawaPos.com - Persoalan lingkungan di Indonesia kian kompleks. Mulai dari pencemaran plastik di lautan, tumpahan minyak dan gas, illegal logging, perampasan laut (ocean grabbing), hingga pertambangan yang kerap merusak ekosistem.


Persoalan-persoalan tersebut seolah tak pernah usai. Apalagi efek isu perubahan iklim yang cukup banyak dirasakan penduduk bumi.


Di antaranya perubahan musim tanam, berubahnya daerah tangkapan ikan, dan berkembangnya berbagai wabah penyakit yang memakan korban manusia.


Pendek kata isu lingkungan di Indonesia mau tidak mau membutuhkan pengelolaan yang komprehensif, interdisiplin dan kompleks.


Demikian salah satu kesimpulan dari diskusi yang digelar para peneliti dari Forum Alumni Independen (FAN) Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (5/6) malam. Diskusi digelar dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS).


Praktisi Lingkungan dan Pegiat FAN-IPB, Laode Rusyamin mengatakan, terkait isu perubahan iklim, Indonesia dituntut komitmennya di setiap forum Komprensi Tingkat Tinggi (KTT).


Yakni menurunkan emisi gas rumah kacanya hingga 26 persen hingga 2019.


"Dilemanya, Indonesia sebagai negara berkembang masih mengandalkan kekuatan ekonominya dari sektor riil seperti perkebunan dan pertambangan," kata Yamin kepada JawaPos.com.


Yamin menjelaskan pada 2017, komoditas industri sawit berkontribusi besar bagi perekonomian nasional, namun Uni Eropa memberlakukan aturan sistem non-tarif bagi komoditas ini yang diklaim berdampak terhadap perubahan iklilm.


Meskipun, kata Yamin, para pakar di Indonesia telah menunjukkan hasil penelitian ilmiah terutama beberapa ilmuwan IPB terkait hal ini, agar komoditas strategis ini tidak ditolak pasar Eropa.


"Tentu hal ini menjadi problem ekonomi politik dalam konteks perdagangan internasional . Karena di satu sisi Indonesia sebagai salah satu negara pemilik biodiversity terbesar di dunia setelah Brazil dituntut untuk menjadi penyangga ancaman perubahan iklim global," ungkap dia.


Dari Plastik hingga Korupsi Sumber Daya Alam


Pengarah FAN-IPB, Muhammad Karim mengatakan, salah satu persoalan lingkungan krusial di Tanah Air adalah pencemaran plastik.


Indonesia, kata dia, saat ini termasuk negara yang akut dalam soal pencemaran plastik di dunia. Laporan Ocean Conservancy menyebutkan bahwa lima negara paling berkontribusi dalam krisis sampah di lautan yaitu Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.


"Kelima negara ini diperkirahkan memuntahkan sampah plastik sekitar 60 persen yang masuk di perairan laut di dunia. Diperkirakan, setiap tahun sekitar 12,7 juta metrik ton sampah plastik dari daratan dibuang ke laut di seluruh dunia," beber Karim.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore