
FAN-IPB menyebut ada banyak persoalan terkait pengelolaan lingkungan di Indonesia. Mulai dari persoalan sampah plastik hingga korupsi sumber daya alam
JawaPos.com - Persoalan lingkungan di Indonesia kian kompleks. Mulai dari pencemaran plastik di lautan, tumpahan minyak dan gas, illegal logging, perampasan laut (ocean grabbing), hingga pertambangan yang kerap merusak ekosistem.
Persoalan-persoalan tersebut seolah tak pernah usai. Apalagi efek isu perubahan iklim yang cukup banyak dirasakan penduduk bumi.
Di antaranya perubahan musim tanam, berubahnya daerah tangkapan ikan, dan berkembangnya berbagai wabah penyakit yang memakan korban manusia.
Pendek kata isu lingkungan di Indonesia mau tidak mau membutuhkan pengelolaan yang komprehensif, interdisiplin dan kompleks.
Demikian salah satu kesimpulan dari diskusi yang digelar para peneliti dari Forum Alumni Independen (FAN) Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa (5/6) malam. Diskusi digelar dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS).
Praktisi Lingkungan dan Pegiat FAN-IPB, Laode Rusyamin mengatakan, terkait isu perubahan iklim, Indonesia dituntut komitmennya di setiap forum Komprensi Tingkat Tinggi (KTT).
Yakni menurunkan emisi gas rumah kacanya hingga 26 persen hingga 2019.
"Dilemanya, Indonesia sebagai negara berkembang masih mengandalkan kekuatan ekonominya dari sektor riil seperti perkebunan dan pertambangan," kata Yamin kepada JawaPos.com.
Yamin menjelaskan pada 2017, komoditas industri sawit berkontribusi besar bagi perekonomian nasional, namun Uni Eropa memberlakukan aturan sistem non-tarif bagi komoditas ini yang diklaim berdampak terhadap perubahan iklilm.
Meskipun, kata Yamin, para pakar di Indonesia telah menunjukkan hasil penelitian ilmiah terutama beberapa ilmuwan IPB terkait hal ini, agar komoditas strategis ini tidak ditolak pasar Eropa.
"Tentu hal ini menjadi problem ekonomi politik dalam konteks perdagangan internasional . Karena di satu sisi Indonesia sebagai salah satu negara pemilik biodiversity terbesar di dunia setelah Brazil dituntut untuk menjadi penyangga ancaman perubahan iklim global," ungkap dia.
Dari Plastik hingga Korupsi Sumber Daya Alam
Pengarah FAN-IPB, Muhammad Karim mengatakan, salah satu persoalan lingkungan krusial di Tanah Air adalah pencemaran plastik.
Indonesia, kata dia, saat ini termasuk negara yang akut dalam soal pencemaran plastik di dunia. Laporan Ocean Conservancy menyebutkan bahwa lima negara paling berkontribusi dalam krisis sampah di lautan yaitu Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
"Kelima negara ini diperkirahkan memuntahkan sampah plastik sekitar 60 persen yang masuk di perairan laut di dunia. Diperkirakan, setiap tahun sekitar 12,7 juta metrik ton sampah plastik dari daratan dibuang ke laut di seluruh dunia," beber Karim.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
