
Beberapa situs megalitikum di Sulawesi Tengah (Sulteng).
JawaPos.com - Tim ekspedisi Palu Koro akan menggelar penelitian di sekitar wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) yang dilalui sesar Palu Koro. Penelitian dilakukan untuk menyelamatkan nyawa warga setempat dari ancaman bencana gempa dan tsunami besar. Selain itu, penelitian dilakukan sebagai upaya mencegah kerusakan sumber daya alam.
Ketua Tim Ekspedisi Palu Koro Trinurmalaningrum mengatakan, di sepanjang area sesar Palu Koro, terdapat setidaknya 1.450 situs megalitikum. Ukurannya beragam, berkisar rata-rata 4-8 meter setiap situsnya. Situs-situs di sana mirip dengan yang terdapat di Pulau Paskah Chili. Batu-batu besarnya menyerupai bentuk manusia.
"Situs itu kan ada 1.450 tersebar. Dan situsnya besar-besar ada yang 4 meter, 8 meter. Kemarin itu juga jadi pemikiran kalau dipindahkan nggak mungkin. Tapi harus ada upaya (penyelamatan dari ancaman bencana)," ujar Trini, biasa Trinurmalaningrum disapa, di kantor BNPB Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Jumat (27/7).
Trini menuturkan, dari pengamatan awal tim ekpedisi Palu Koro situs megalitikum di Sulteng ini terlihat seperti perkampungan zaman purbakala. Namun hal itu masih belum dapat dipastikan karena harus dilakukan penelitian lebih jauh.
"Saya masih belum ngerti situs megalitikum itu sebenarnya. Kemungkinan bekas perkampungan zaman megalitikum dulu kali ya. Itu yang masih belum terselesaikan," lanjutnya.
Peninggalan masa lampau ini merupakan potensi wisata jika dapat dikelola dengan baik. Namun situs ini terancam rusak karena Sulteng dilewati oleh satu dari tiga sesar besar di Indonesia yang memicu terjadinya gempa bumi dan tsunami skala besar.
Kekhawatiran itulah yang sampai saat ini masih menjadi salah satu fokus tim ekspedisi Palu Koro. Mereka masih berupaya mencarikan jalan keluar agar situs bersejarah ini tidak rusak ketika bencana datang.
"Memang harus duduk dengan para geolog, merancang supaya situs-situs itu bisa terselamatkan kalau kemudian terjadi bencana," sambungnya.
Gempa bumi besar yang terjadi pada 1907 dan 1909 ditengarai pernah membuat situs ini mengalami kerusakan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa situs yang terlihat terbelah atau bentuknya tidak utuh lagi.
"Kami juga curiga situs-situs itu tinggal sepotong. Ada yang tinggal berdiri, orang yang tinggal matanya aja jatuh tengkurep gitu. Itu besar banget menimpa sawah-sawah masyarakat. Kemungkinan itu juga karena peristiwa gempa (di masa lalu)," tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
