Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Mei 2018 | 15.49 WIB

Gus Yaqut: Sikap Saling Menghargai Perekat Persatuan NKRI

Anggota DPR Fraksi PKB, Yaqut Cholil Qoumas ketika menggelar sosialisasi empat pilar di Pekalongan. - Image

Anggota DPR Fraksi PKB, Yaqut Cholil Qoumas ketika menggelar sosialisasi empat pilar di Pekalongan.

JawaPos.com - Di era kebebasan informasi saat ini semua orang bebas berekspresi dan menyampaikan pendapatnya. Namun, tidak jarang dengan kebebasan tersebut menyampaikan pendapatnya bahkan tidak sesuai dengan norma maupun etika.


Menanggapi hal tersebut, Yaqut Cholil Qoumas Anggota DPR-RI dari PKB mengungkapkan sudah saatnya bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.


Saling menghargai, tenggang rasa, hingga gotong-royong.


“Kita sadari dengan adanya dunia maya, menjadikan dunia tanpa batas dan bebas. Namun, tidak jarang dengan kebebasan itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dan merugikan orang lain," ungkapnya di Pekalongan, kemarin (12/5).


"Padahal, budaya dan tradisi kita dulu kental sekali dengan adanya sikap menghargai, gotong royong dan sebagainya,” lanjut Ketua Umum GP Ansor ini.


Menurutnya, dengan sikap menghargai akan memperkuat persatuan dan kesatuan NKRI. Pasalnya, sudah menjadi tradisi dan budaya yang mengakar bangsa Indonesia sejak dahulu.


Dirinya menyangkan, merosotnya nilai-nilai karakter bangsa hanya karena untuk mengikuti kepentingan sesaat atau pribadi dan mengalahkan kepentingan bersama.


"Sikap saling menghargai ini harus terus kita pupuk sejak dini dan dijaga sampai akhir nanti," jelasnya.


Menyikapi berita akhir-akhir ini terkait kerusuhan teroris di Mako Brimob Depok yang menelan korban jiwa, dirinya merasa prihatin.


Kata Gus Yaeut, apa yang telah mereka lakukan bukanlah berdasarkan budaya, tradisi dan melanggar hukum Bangsa Indonesia.


"Tindakan mereka itu sudah melampaui batas prikemanusiaan dan bertolak belakang dengan UUD 45. Kalau masyarakat menghayati benar tentang makna pancasila, UUD 45, maka aksi teroris tidak dijumpai," terangnya.


Menurutnya, dengan adanya sikap saling menghargai dan menghormati benih radikalisme bisa ditepis.


Pasalnya, ideologi dan keyakinan yang mereka yakini tidak ada kata menghargai dan menghormati perbedaan orang lain. Bagaimana tidak, lanjutnya, prilaku menghabisi aparat Pemerintah dengan cara keji tidak bisa dibenarkan.


"Kekerasan atas nama agama itu tidak bisa dibenarkan. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan, melindungi dari ketertindasan mencintai tanah air Indonesia adalah juga bagian dari jihad. Mari kita perkuat persatuan dan kesatuan NKRI ini," pungkasnya.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore