
Contoh hunian sementara dari material bambu yang dibangun oleh PT Abyor International, perusahaan penyedia konsultasi Teknologi Informasi dan manajemen solusi enterprises resource planning (ERP) dari SAP di Indonesia, bersama Institut Teknologi Bandung.
JawaPos.com - Terletak di atas tiga lempeng besar dan dikelilingi 'cincin api', membuat wilayah Indonesia rawan dilanda gempa dan tsunami. Belum selesai duka di Lombok, gempa bumi disertai tsunami menerjang tanah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Mencermati kebutuhan hunian yang tahan gempa, PT Abyor International bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Mataram (Unram) membangun hunian sementara (huntara) bagi masyarakat Lombok korban gempa. Rumah inipun dinilai cocok bagi wilayah-wilayah rawan gempa.
"Gempa menyebabkan banyak bangunan runtuh termasuk rumah penduduk. Keprihatinan tersebut kami wujudkan dalam bentuk bantuan berupa hunian sementara dengan harapan membantu warga hingga mampu untuk memiliki hunian permanan kelak," ujar Director Professional Delivery Services PT Abyor International Dony Rivai dalam keterangan tertulis, Minggu (30/9).
Hunian tersebut berupa hunian keluarga seperti family shelter, communal shelter, Mandi Cuci Kakus (MCK) dan posko untuk relawan. Ikatan Alumni ITB menggagas pembangunan rumah dan bangunan dengan konsep huntara dari bambu.
Hunian sementara hasil rancangan arsitek ITB itu terbuat dari bambu karena beberapa pertimbangan. Struktur bambu lebih ringan, lebih elastis, dan tidak mudah pecah sehingga dapat diandalkan.
Agar dapat lebih awet, bambu yang digunakan diplester untuk mencegah risiko kerusakan akibat hujan, kelembaban, jamur, rayap, dan kebakaran. Selain dapat diandalkan, pemakaian bambu juga lebih menghemat biaya. Setidaknya hanya diperlukan Rp 20 juta untuk membuat huntara berbahan bambu.
Ada beberapa bangunan yang dibuat di tahap awal sebagai percontohan yakni satu unit family shelter, satu unit communal shelter, satu unit rumah huntara, dan satu unit geodome untuk Poskorelawan. Pembangunan seluruhnya berlokasi di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.
Huntara yang dibangun memiliki luas empat kali enam meter dengan satu kamar di mezzanine yang bisa dipisah menjadi dua. Tim relawan gabungan Abyor-ITB-Unram memulai proses pembangunan di area yang tertimpa bencana sejak awal September di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.
Wakil Rektor Unram, Prof. Lalu Wiresapto Karyadi mengatakan, berbagai bentuk rehabilitasi pascagempa Lombok salah satunya dengan segera membangun hunian bagi para korban. Huntara hasil arsitek ITB tersebut bisa menjadi contoh bagi wilayah lainnya yang rawan gempa.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
