
Miyos Gangsa Sekaten di Pura Pakualaman, Rabu (27/9). (Instagram @purapakualaman)
JawaPos.com – Saat kita mengingat Yogyakarta, mungkin kita terlintas langsung dengan Keraton Yogyakarta, sebuah kesultanan yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono.
Jika kita berjalan sekitar 1,5 Km ke arah timur dari Titik 0 Km Yogyakarta melewati Jalan Sultan Agung, terdapat sebuah istana yang dikenal dengan Pura Pakualaman.
Pura Pakualaman berdiri usai adanya penyerahan kekuasaan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II kepada adiknya Pangeran Natakusuma pada tahun 1813 saat pendudukan Inggris.
Pangeran Natakusuma pun mendapatkan gelar Kanjeng Gusti pangeran Adipati Arya (GPAA) Paku Alam I.
Berdasarkan politik kontrak yang ditandatangani Raffles sebagai wakil pemerintahan Inggris dengan Sri Sultan Hamengkubuwana III, Pemerintah Inggris mengembalikan wilayah Kesultanan Yogyakarta yang sebelumnya dikuasai semasa Daendels kecuali Grobogan yang diberikan kepada Paku Alam.
Selain itu, politik kontrak juga mengatur wilayah yang ditandatangani Paku Alam I dan John Crawfurd pada 17 Maret 813.
Setelah resmi menjadi adipati, Sri Paku Alam I mendirikan Pura Pakualaman di wilayah yang dikuasainya. Pakualaman memiliki 400 cacah yang meliputi kawasan sekitar pura dan di luar kabupaten adikarto.
Pura Pakualaman selayaknya keraton-keraton Jawa yang memiliki tata ruang Catur Gatra Tunggal. Konsep ini memiliki empat bagian yang menjadi satu, yaitu budaya, sosial, ekonomi, dan keagamaan.
Catur Gatra Tunggal tersebut ditunjukkan dengan adanya pusat pemerintahan di Puro Pakualaman.
Bangunan Pura Pakualaman pun berdiri dengan menghadap ke selatan, berbeda dengan Keraton Yogyakarta yang menghadap ke utara. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Kesultanan Yogyakarta.
Kompleks Pura Pakualaman seluas 5,4 ha pun dikelilingi tembok yang tinggi. Arsitektur Langgam Jawa pun terlihat pada bangunan Pura Pakualaman.
Salah satu ruangan di dalam kompleks pura pun pernah ditempati Soekarno saat Gedung Agung Yogyakarta sedang dipersiapkan sewaktu Ibu Kota Indonesia pindah ke Yogyakarta akibat Agresi Militer Belanda II.
Selanjutnya, pada bidang sosial ditunjukkan dengan adanya Alun-alun Sewandanan yang berada di selatan Pura Pakualaman.
Alun-alun ini hingga saat ini masih digunakan untuk masyarakat termasuk saat Prosesi Grebeg.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
