Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Januari 2017 | 22.12 WIB

Catat, Prediksi Cuaca dan Iklim Sepanjang 2017 

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca dan iklim sepanjang 2017 nanti lebih baik ketimbang 2015 dan 2016. Sekalipun memang, ada ancaman kondisi cuaca lokal dan meningkatkan hotspot atau titik panas.   


"Harus tetap diwaspadai. Terutama soal hotspot karena bisa memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)," ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya dalam paparan Kilas Balik Dampak Cuaca, Iklim dan Kegempaan di Jakarta. 


Andi mengatakan, tren cuaca pada tahun 2017 ada kemungkinan normal. Tetapi faktor perubahan iklim dan keberagaman tingkat kerentanan masing-masing wilayah berbeda satu sama lain. "Ada beberapa wilayah yang hujannya ekuatorial yakni memiliki dua kali musim kemarau," katanya.Misalnya pada Februari sampai Maret di wilayah Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengalami kemarau, lalu masuk lagi hujan di bulan April-Mei. Kemudian pada Juni kembali lagi ke musim kemarau.


Andi menambahkan, BMKG pun sudah menyampaikan kondisi prakiraan ini kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.Gambaran peristiwa alam di atas dapat memberikan gambaran tingkat kerentanan Indonesia terhadap cuaca, iklim dan kegempaan.


Bencana yang terjadi diakibatkan oleh kondisi tersebut berdampak pada berhentinya aktivitas ekonomi produktif, kerusakan hasil-hasil pembangunan dan korban kerugian lainnya, termasuk manusia. Tingkat kerentanan diharapkan dapat diantisipasi untuk memitigasi dan menekan korban serta kerugian yang lebih besar dihari-hari mendatang seiring dengan upaya pembangunan yang sedang dilakukan. Banyak kejadian dan peristiwa yang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat Indonesia pada tahun tersebut. Seperti Banjir 


Bandang di Garut 20 September 2016, banjir di Bandung 24 Oktober 2016, dan banjir di Gorontalo 25 Oktober 2016. Termasuk beberapa kejadian cuaca ekstrem di wilayah Indonesia seperti tanah longsor, hujan lebat disertai angin kencang, dan gelombang tinggi yang memicu storm tide di Pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa Hingga Lombok.


"Posisi geografis Indonesia, di satu pihak merupakan berkah. Pada sisi lain, Indonesia yang diapit oleh dua benua, dua samudera, dilalui "ring-of-fire"," katanya dalam keterangan tertulisnya.


Indonesia juga terletak di atas katulistiwa dan di atas 3 lempeng tekntonik, menjadikan rentan terhadap berbagai bentuk bencana hidrometeorologi dan geologi sebagai dampak dari fenomena cuaca, iklim, dan kegempaan dan posisi geografisnya. Sehingga, Andi melanjutkan, tingkat kerentanan di setiap wilayah tidak merata dan eskpose cuaca, iklim dan kegempaan pun memberikan dampak yang berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lain.


Andi menjelaskan di tahun 2016 pun terjadi beberapa badai siklon tropis di wilayah perairan sebelah utara dan selatan dekat Indonesia, yang mengakibatkan ekstrimitas cuaca di Indonesia.


"Berdasarkan catatan rekam jejak kejadian siklon tropis, pada bulan Agustus, terjadi 187 kejadian siklon tropis di wilayah perairan sebelah utara dekat Indonesia sedangkan untuk siklon tropis yang terjadi di sebelah selatan sebanyak 58 kejadian siklon tropis," pungkasnya.(gun/rmol/mam/JPG)


Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore