
Kenaikan biaya pengurusan STNK dan BPKB akan memberatkan masyarakat menengah bawah
JawaPos.com - Wakil Ketua Fraksi PKS DPR Bidang Ekonomian dan Keuangan Ecky Awal Mucharam menyesalkan kenaikan biaya pengurusan STNK dan BPKB yang baru saja ditetapkan oleh pemerintah. Pasalnya, kenaikan itu akan memberatkan rakyat.
"Kenaikan biaya pengurusan STNK sebesar dua hingga hampir tiga kali lipat itu tidak masuk akal dan membebani rakyat," ujar Ecky di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/1).
Sebagaimana diketahui, pemerintah lewat PP 60/ 2016 menaikan biaya pelayanan STNK maupun BPKB baru dan perpanjangan bervariasi dari 2 kali hingga hampir 3 kali lipat. Kebijakan ini berlaku efektif per 6 Januari 2016. Sementara data dari GAIKINDO, kepemilikan motor di Indonesia mencapai 260 buah per 1000 penduduk. Banyak di antaranya dimiliki oleh penduduk kelas menengah ke bawah.
Penolakan Ecky karena menilai pemerintah tidak punya alasan kuat untuk kenaikan harga hingga fantastis itu. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada dasarnya untuk menutup biaya barang atau jasa yang digunakan dalam pelayanan. Pemerintah mengatakan dalam enam tahun belum melakukan penyesuaian tarif sehingga perlu disesuaikan terhadap inflasi.
"Jika ini alasannya, bisa kita hitung dan semestinya hanya 25-30 persen. Kenaikan hingga 2-3 kali lipat tidak bisa dijustifikasi," tegas Anggota Komisi XI DPR RI ini.
Menurutnya, jika tujuan pemerintah menggenjot penerimaan negara mestinya harus dilakukan dengan langkah-langkah yang lebih kreatif dan mencerminkan rasa keadilan.
Sungguh dirasa tidak adil ketika masyarakat menengah ke atas diberikan fasilitas pengampunan pajak, masyarakat menengah ke bawah malah dibebani tambahan pungutan seperti itu. "Kesannya dengan kenaikan ini pemerintah sudah kehabisan akal untuk menaikan penerimaan negara yang dua tahun ke belakang selalu defisit," sambung Ecky.
Karenanya, dia menilai wajar jika masyarakat menengah ke bawah merasa kecewa. Sebab secara bersamaan juga ada kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) karena kebijakan pembatasan subsidi. Sementara harga-harga seperti cabai pun mulai merangkak naik.
Parahnya, lanjut Ecky, anytar pejabat pemerintah malah saling lempar tanggung jawab di media. Mulai dari presiden yang mempertanyakan kenaikan tarif, padahal dia sudah menandatangani peraturan pemerintahnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang saling mengelak terkait dengan siapa yang mengusulkan kebijakan tak popuper itu. "Untuk itu, Pemerintah harus bisa menjelaskan dan mempertanggungjawabkan kenaikan ini," pungkas Ecky. (dna/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
