Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Mei 2017 | 17.38 WIB

Goresan Imajinasi Hati Tanpa Batas Anfield

Pelukis cilik Anfield Wibowo, 12, mengoreskan tinta cair ke kain kanvas untuk melukis bertemakan ekspresionis di kediamannya. - Image

Pelukis cilik Anfield Wibowo, 12, mengoreskan tinta cair ke kain kanvas untuk melukis bertemakan ekspresionis di kediamannya.

Bagi pelukis, pameran tunggal adalah panggung utama untuk menampilkan karya-karyanya. Tak banyak pelukis yang mampu mencapai level itu. Hebatnya, Anfield Wibowo dan Emilio Cornain menggapainya di usia belia. 

---

ANFIELD Wibowo masih mondar-mandir sambil membawa ponsel meski kanvas berukuran 100 x 110 cm sudah ditancapkan di easel, tiang kayu penjepit kanvas. Bocah 12 tahun itu keluar masuk dari ruang tengah ke teras belakang yang dipisahkan pintu geser.

Di teras belakang itu Mardonius Tri Tjahyo Adi, ayah Anfield, sudah menata kuas, cat, palet, dan air dalam ember kecil di atas meja berlapis koran dan kain lap.

Donny -sapaan Mardonius Tri Tjahyo Adi- seperti biasa, menjadi asisten khusus bagi putra tunggalnya itu. Termasuk saat berada di rumahnya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, siang kemarin (20/5).

Tiba-tiba Anfield menggerakan tangannya ke kanan dan ke kiri seolah menyapukan kuas. Bahasa isyarat itulah yang selalu menjadi pertanda Anfield hendak melukis. Anfield yang punya nama lengkap Benediktus Anfield Bagus Wibowo tersebut mengalami tunarungu sejak kecil. Dia juga didiagnosis asperger, gejala autisme yang membuat penderitanya sulit berkomunikasi dengan lingkung­an, dua tahun lalu. 

Donny lantas bersiap di dekat meja. Anfield menunjuk botol plastik berisi cat kuning dengan kuas besar. Donny menuangkan cat itu di atas palet. Lalu, giliran botol berisi cat cokelat dan putih yang ditunjuk Anfield. Tiga cat itu dicampur sedemikian rupa sebelum disapukan di atas kanvas dengan cepat tak sampai sepuluh menit. Anfield membuat background terlebih dahulu. Kuning muda lebih dominan mengisi seluruh kanvas.

Anfield menggerakkan tangannya lagi, memberikan isyarat seperti menyuruh orang pergi. Rupanya, itu pertanda dia ingin cat di background kering terlebih dahulu. Dia kembali masuk ke ruang tengah di rumah Santi Setyanto, nenek Anfield, tersebut. "Jarang-jarang dia buat background paduan warna yang lebih terang begini," kata Donny.

Sambil menunggu cat mengering itu, Donny menceritakan perjalanan hidup anak kelahiran Jakarta, 19 November 2004, tersebut. Anfield mulai kelihatan suka menggambar pada usia dua tahun. Pada usia tujuh tahun, dia dikenalkan dengan media kanvas setelah hanya menggambar di buku gambar. Hanya dua bulan Anfield didampingi guru lukis. Setelah itu, talentalah yang mematangkannya.

Pada awal-awal melukis, dia lebih suka membuat objek berupa binatang. Khususnya gajah yang dibuat warna-warni. Hampir tiap hari dia melukis. Satu lukisan bisa selesai dalam sejam saja. "Saat melukis, dia menganggap kanvas itu wilayah kekuasaan dia. Tidak boleh ada yang sentuh," kata Donny yang sehari-hari bekerja di perusahaan sekuritas.

Sebagai orang tua, Donny terus mendorong Anfield. Dia pun memprakarsai pameran tunggal Anfield karena sebelumnya ada banyak pujian lukisan bikinan putranya itu bagus. Pameran tunggal itu digelar pada 31 Juli hingga 3 Agustus 2013 di Graha Cipta III Taman Ismail Marzuki. 

Pameran bertajuk Imajinasi tanpa Batas tersebut memamerkan 43 lukisan. Saat itu usia Anfield masih delapan tahun. Di luar dugaan, lukisan Anfield ternyata menarik banyak pengunjung. Ada 20 lukisan yang dibeli kolektor.

Donny menuturkan, Ciputra juga datang untuk mengapresiasi lukisan Anfield. Dia masih ingat, begawan properti itu datang pada Jumat siang, saat area pemeran sedang sepi. "Sepertinya, Pak Ci ingin menikmati lukisan tersebut dalam suasana tenang. Saya ingat betul kata-kata Pak Ci waktu itu, 'Anfield melukis dengan hati, saya suka dengan komposisinya'," ungkap Donny. Kata-kata itu menjadi api penyemangat Donny untuk terus mendukung Anfield.

Periode berikutnya, sepanjang 2014, Anfield sempat mogok melukis hampir tiga bulan. Bila sudah begitu, Donny pun tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, sebagai ayah, dia pun sadar tidak bisa memaksakan keinginan putranya yang memang punya karakter spesial itu. "Tapi, setelah jeda tiga bulan, dia melukis tiada henti. Ceritanya yang ada di Bibel, mulai Adam-Hawa hingga Tuhan Yesus naik surga. Delapan puluh lukisan dia buat," ujar Donny sambil geleng-geleng kepala.

Lukisan tersebut akhirnya dibuka ke publik dalam pameran tunggal pada Desember 2014 di Galeri 678, Kemang, Jakarta. Ada 52 lukisan yang dibawa dalam pameran bertajuk My Faith itu. Belasan lukisan terjual. 

Soal menjual lukisan itu, Donny menyelipkan cerita. Dia menuturkan, meski banyak yang berminat dengan lukisan Anfield, dia tak mau menjual seluruhnya walaupun dihargai tinggi. Hanya sekitar 20 persen dari total 600 lukisan yang telah dilepas ke tangan pembeli. Selebihnya masih tetap tersimpan rapi. Khususnya yang, menurut Donny, dibuat Anfield dengan penuh keseriusan. 

"Biarlah Anfield yang kelak memutuskan nasib lukisannya. Karena bagaimanapun, saya tidak terlalu berhak," ujar dia. Beberapa lukisan Anfield dibeli puluhan juta rupiah. Untuk angka pastinya, Donny tak mau menyebutkan.

Pameran tunggal ketiga digelar pada Februari 2017 di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki bertajuk Rentang Masa. Anfield menyuguhkan 38 lukisan bertema landscape, religi, dan figur fiktif. Dari jumlah itu, 20 lukisan dilepas.

Selain pameran tunggal, dia sudah belasan kali mengikuti pameran bersama. Terbaru, pameran di plaza Insan Berprestasi Kemendikbud pada 17-21 Mei. Pameran dan diskusi bertajuk Merintis Jejaring Art Burt Indonesia itu diikuti enam pelukis berkebutuhan khusus. Termasuk Emilio Cornain.

Di dalam ruangan, Anfield kembali tenggelam dalam ritual seninya. Dia menyapukan kuas kecil yang berbalut tinta merah dan cokelat. Usap ke kiri kanan dan atas, ternyata dia membuat topi. Lantas, menggambar yang pada akhirnya membentuk sesosok lelaki berkumis dan berjubah yang sedang memegang tongkat.

Dia sempat berhenti sejenak dan menyelingi dengan olahraga ringan di alat seperti sepeda statis. Veronica Christnian Dewi, ibunda Anfield, turut memperhatikan tingkah laku Anfield tersebut.

Sejurus kemudian, Anfield memberikan sentuhan pada lukisannya berupa gambar pepohonan kering di sisi sebelah kiri, lalu sapuan abstrak di sisi kanan. Terakhir, dia melepas selotip yang ada di sepanjang pinggir lukisan. "Ini tandanya lukisannya sudah jadi. Ya, begitulah Anfield," ujar Donny. (jun/c10/owi)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore