
Bhumihara tampil dalam ajang program Young Social Entrepreneurs (YSE) dari Singapore International Foundation (SIF)
JawaPos.com - Indonesia memiliki 17 ribuan pulau, di mana satu persatu pulau juga memerlukan perhatian dari masing-masing pemerintah daerah. Dari mulai persoalan sosial, kemiskinan, pendidikan, kesehatan hingga lingkungan. Hal itulah yang melatarbelakangi anak-anak muda lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) dalam kelompok Bhumihara, menyoroti masalah rumit pulau di Indonesia, salah satunya pulau Bawean.
Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sebelah utara Gresik. Bhumihara menyoroti masalah sampah yang terjadi di Pulau Bawean. Pulau itu memiliki sistem pengolahan sampah yang buruk sehingga banyak Tempat Pembuang Sampah (TPS) liar di mana-mana.
Atas kegelisahan itu, Bhumihara membawa persoalan tersebut dalam ajang program Young Social Entrepreneurs (YSE) dari Singapore International Foundation (SIF). Di hadapan juri, mereka menyampaikan segala persoalan yang ada di Bawean dan apa yang akan mereka lakukan.
"Kami sedang tahap inisiasi dengan Pulau Bawean. Untuk mencapai ke sana, kami naik kapal dari Gresik. Awal tahun 2016 kami menjadi relawan ke Bawean. Kami melihat sampah di sana tak diolah. Tak ada TPST tak ada TPA," jelas Anggota Bhumihara, Fadhila El Discha dan Febri Purborini Raharningrum dari Bhumihara di Singapura, Sabtu (4/11).
Mereka juga melakukan studi banding dengan melihat pulau lain seperti Sangihe di Sulawesi. Mereka menilai pengolahan sampah di Bawean tidak diperhatikan. Padahal pengolahan bisa dilakukan dengan sederhana, tak harus menunggu dari pemerintah.
"Kami survei lapangan, bagaimana persepsi masyarakat soal pengelolaan sampah. Kamu datang dari luar bawa awareness," ungkapnya.
Salah satu contoh berbagai sampah yang dibuang ke laut akan balik lagi ke rumah warga saat hujan atau banjir. Sehingga hal itu membuat lingkungan tak sehat sehingga rentan terhadap ancaman penyakit. Sampah popok dibuang ke sungai juga menyebabkan pendangkalan.
"Kami menggulirkan semacam pengelolaan sampah. Dalam bentuk investasi sosial kewirausahaan. Sebagai fasilitator atau platform," jelasnya.
Dengan berbincang bersama masyarakat setempat, Bhumihara memberikan solusi bagi 107 ribu penduduk Bawean. Mereka menargetkan masalah sampah bisa diatasi 100 persen. Menurut mereka pengolahan sampah harus dilakukan holistik sehingga dari mulai sampah rumah tangga harus dipilah dari organik, anorganik, serra residu.
"Organik jadi pupuk. Plastik dicacah dijual ke Gresik. Dan residu juga dimanfaatkan untuk yang lain. Tahun 2018 sudah established bersama persatuan saudagar Bawean," kata Bhumihara.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
