
MELATA: Python reticulatus jenis albino se- panjang 3 meter merayap pelan di rerumputan Grand Island, Pakuwon City, Jumat (30/10). (Robertus Risky/Jawa Pos)
Ular piton (Python reticulatus) bisa menjadi salah satu alternatif satwa eksotis untuk dipelihara. Karakternya yang bisa jinak dan relatif mudah dipelihara itu membuat Tejoh Adih jatuh cinta. Apalagi dengan si albino yang kekuningan, sudah dianggap teman sendiri.
---
Tiga ular jenis Python reticulatus menggeliat di halaman Perumahan Grand Island Blok T10, Pakuwon City, pada Sabtu (31/10) lalu. Tiga ular itu berjenis albino, bacan normal, dan bacan tiger. Ukuran mereka masing-masing 3 meter. Sudah jinak. Tejoh Adih sesekali memegang, menggendong, dan melilitkan ular tersebut di badannya.
”Ular bisa jinak karena sering dipegang. Semakin banyak dipegang, semakin jinak,” ujar dia sembari memegang si albino. Bagi orang yang baru dikenal, tentu hal itu berbeda. Sebab, si ular butuh proses adaptasi dulu untuk mencium aroma seseorang. ”Butuh waktu lama bisa jinak. Kalau sebentar, pasti susah dikendalikan,” kata pria 30 tahun tersebut.
Saat dilepas di halaman tersebut, piton albino itu pun menjadi tontonan banyak orang. Pekerja bangunan yang ada di depan rumah di kawasan Sukililo, Surabaya Timur, tersebut ikut melihat karena penasaran ada ular dengan motif cantik plus ukuran yang besar. ”Kalau albino kan warnanya kekuningan. Bacan lebih ke gelap. Kedua jenis ular ini punya sisik yang mulus. Ini yang jadi daya tariknya,” terang Tejoh yang tinggal di Sidoarjo.
Salah satu yang menarik tentu saja si albino. Si ular berwarna kuning keemasan itu termasuk mudah dilatih. Tejoh membesarkannya sejak kecil. Butuh waktu dua tahun hingga ular mencapai ukuran 3 meter.
Si albino itu memang lebih mencolok daripada Python reticulatus jenis lain. Coraknya yang khas ditambah warnanya yang terang membuat orang tertarik melihat si ular. Selain itu, tipe albino tidak agresif. Sehingga bisa dikendalikan dengan baik. ”Albino ini ibarat teman saya. Sudah akrab sekali,” kata Tejoh.
Perawatannya pun relatif mudah. Pemberian makan dan minum seminggu sekali. Untuk makanannya bisa ayam atau kambing kecil untuk ular dewasa. Sementara ular anakan diberi makan tikus.
Soal kesehatan, ular indukan biasanya punya masalah sariawan dan pilek. Butuh sebulan sembuhnya. Dengan pemberian sirih dan air yang direndamkan ke piton. Sedangkan problem di ular yang masih kecil ialah susah makan. Perlu waktu sebulan bagi ular muda untuk makan pasca dilahirkan. Nah, setelah masa makan tiba, banyak ular kecil yang tidak mau makan. Karena itulah, Tejoh biasanya menyiasati dengan tindakan pemberian makan secara paksa. ”Tikus kecil dimasukkan ke mulut secara perlahan. Supaya ular tak kurus, lalu mati,” paparnya.
Keunikan kulit dan motif itulah yang membuat harga piton jenis reticulatus itu relatif mahal. Indukan bisa dihargai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per ekor. Sedangkan anakan sekitar Rp 2 juta–Rp 3 juta. Harga itu sudah sebanding dengan perawatan yang diberikan. Tejoh menerangkan, Oktober lalu dirinya berhasil mendapatkan Rp 80 juta dari penjualan 25 ular tipe bacan kombo. Selain fokus di peternakan, dia memberikan edukasi perawatan dan penanganan ular bagi keluarganya.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
