alexametrics

Gengsi Memiliki Ikan Pari

3 Januari 2021, 16:48:10 WIB

Ikan pari pernah menghebohkan dunia pada 2006. Stephen Robert Irwin atau yang kerap dijuluki The Crocodile Hunter meregang nyawa setelah tersengat ekor pari saat membuat film dokumenter berjudul Ocean’s Deadliest di Batt Reef, Australia. Pari air tawar juga punya senjata menyengat. Meski begitu, itu tidak menyurutkan para penghobi ikan hias untuk memilihnya sebagai koleksi unik di dalam akuarium.

BEBERAPA penghobi ikan hias mengaku tertarik memelihara pari air tawar, salah satunya, karena bentuk tubuhnya yang sudah pasti lain daripada yang lain. Plus, corak warnanya yang variatif. ”Nyeleneh, beda sama ikan lainnya. Lucu kalau renang, terus ada gengsinya juga,” ujar Arifin Rachman, pencinta ikan predator asal Simokerto, Surabaya, lantas tertawa. Gengsi karena seorang penghobi harus berani merogoh kocek lebih dalam untuk mengadopsi ikan itu. Harga pari anakan saja bisa mencapai jutaan.

Harga satu ekor pari anakan jenis marble berkisar Rp 1 juta–Rp 1,8 juta. Itu yang diameternya berukuran 10–15 sentimeter. Sementara itu, di pasaran, harga jenis parnaiba yang berdiameter 10 sentimeter mencapai Rp 10 juta–Rp 25 juta. Bahkan, jenis pearl albino dengan ukuran yang sama dihargai Rp 30 juta–Rp 40 juta. Nah, yang dimiliki Arifin adalah jenis marble berdiameter 15 sentimeter.

Ada dua jenis pari air tawar yang sering dipelihara penghobi. Yakni, pari hitam dan cokelat atau motoro. Beberapa turunan pari hitam, antara lain, leopoldi, black diamond, dan galaxy. Sementara itu, yang cokelat, ada motoro albino, royal, dan marble. ”Leopoldi cantik sekali motifnya. Yang cokelat marble juga punya sampai sekarang,” bebernya.

Mahalnya pari air tawar tersebut disebabkan proses breeding yang tidak gampang. Dibutuhkan proses yang panjang. Terlebih, pari tergolong ikan paling sensitif terhadap perubahan kondisi air. Ikan bernama latin Potamotrygon sp itu tidak memiliki sisik. Dengan demikian, ketika terjadi perubahan kondisi air, termasuk suhu, itu akan langsung berdampak pada tubuhnya. Maka, menjaga kualitas air adalah kunci utama dalam memelihara pari air tawar. Rotasi air di dalam akuarium secara berkala wajib dilakukan. Selain itu, pengecekan tingkat keasaman air (pH), kadar amonia, dan suhu perlu diperhatikan.

Arifin menyatakan, sejauh ini dirinya cukup menggunakan air PDAM yang diendapkan. Dengan tetap membutuhkan aerator. Serta rutin menguras akuarium dengan metode 30 persen saja yang dibuang. Untuk pakan, ikan pari dapat diberi cacing darah, baik yang hidup maupun beku. Juga udang potong dan lele yang dirajang. Yang terpenting adalah pakan tersebut wajib tenggelam di dasar akuarium untuk memudahkan ikan pari menyantapnya.

Tentang bahaya sengatan pari air tawar, Arifin mengimbau untuk tetap waspada. Sebab, jika terkena jarum di tengah ekornya itu, tubuh bisa mengalami demam dan area yang tersengat dapat membengkak. Karena itu, untuk memindahkan pari ke tempat lain, dia menggunakan mangkuk. Sebab, ekor pari hanya bisa bergerak ke samping.

Baca Juga: Ikan Lempung atau Lungfish, Fosil Hidup dalam Akuarium

Arifin sempat mengajak Jawa Pos bertemu rekannya, seorang breeder ikan pari air tawar. Di rumah rekannya itu, pria yang identitasnya enggan disebutkan tersebut mengaku sudah dua tahun mengembangbiakkan pari. Hingga kini, dia memiliki satu ekor pari jantan dan sembilan ekor betina dari jenis leopoldi dan marble. Untuk yang paling besar, indukannya berdiameter 70 sentimeter.

Membedakan jenis betina dan jantan terbilang mudah. Yang jantan memiliki sepasang alat kelamin menonjol yang dinamai clasper pada pangkal ekornya. Semakin dewasa ikan pari, semakin jelas pula penampakan clasper. ”Saya pernah keentup (tersengat, Red). Juga keserempet tipis-tipis. Dua hari bengkak,” kenangnya sambil menunjuk indukan 70 sentimeter itu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : zam/c12/cak


Close Ads