
TEKUN: Gufron menunjukkan lup yang biasa dia gunakan untuk mereparasi arloji di kiosnya yang terletak di kawasan Jatinegara beberapa waktu lalu.
JASA reparasi jam mewah dan antik bertebaran di ibu kota. Namun, hanya segelintir yang melegenda. Salah satunya adalah Kios H Abas Ali yang berada di kawasan Jatinegara.
Kios itu berdiri sejak 1930. Umurnya sudah 94 tahun, bahkan lebih tua dari usia republik ini. Saking lamanya beroperasi, kini tukang reparasinya sudah generasi ketiga. Namanya Haji Gufron yang berusia 64 tahun.
Ditemui Jawa Pos pada pekan kedua Mei, Gufron mengatakan bahwa kiosnya tersebut didirikan oleh sang kakek, Haji Ali. Setelah itu, kios dikelola oleh sang ayah, Haji Abas. ”Orang tua penginnya gitu, ada yang lanjutin,” ujarnya. Tak perlu berpikir lama, Gufron pun melanjutkan kios reparasi jam tersebut.
Mengenal arloji dan serba-serbi reparasinya sejak kecil, Gufron dengan senang hati melanjutkan usaha keluarganya. Apalagi, arloji sudah menjadi bagian dari kehidupannya. ’’Jam tangan itu jiwa,” ujarnya berfilsafat.
Gufron yang sejak remaja mengulik arloji tidak mengenyam pendidikan formal sebagai tukang reparasi jam. Satu-satunya pelatihan yang pernah dia ikuti adalah yang diselenggarakan oleh sebuah pabrik jam di Jakarta pada 1980-an. Itu pun dia hanya ikut pelatihan empat hari. Selebihnya, dia mengamati kakek dan ayahnya.
”Ya, belajar sendiri aja. Ngeliatin aja emang udah,” tegasnya dalam logat Betawi.
Menekuni profesinya selama lebih dari 45 tahun, Gufron pernah menyervis berbagai arloji. Mulai yang standar hingga yang mahal dan antik. Ada yang usianya puluhan tahun, bahkan sampai di atas 100 tahun. Arloji merek Rolex, Omega, Seiko, Casio, Roskopf, Waltham Mass, hingga Invender yang berusia 110 tahun pernah Gufron sentuh.
Sebenarnya, perbaikannya secara teknis tidak jauh beda. Namun, saat memperbaiki arloji mahal, Gufron merasakan hal yang berbeda. ”Rasanya bedalah. Yang bagus berbeda, lainlah. Ada deg-degannya,” ujarnya.
Menyervis jam branded, Gufron harus ekstra konsentrasi. Sedangkan, untuk memperbaiki jam tangan yang antik atau mahal, dia butuh waktu lebih banyak. Bahkan, tidak jarang dia meminta waktu hingga satu bulan. Biaya reparasinya pun bisa mencapai jutaan rupiah.
Para kolektor jam, menurut Gufron, tidak ragu mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk menyervis koleksinya. ”Namanya jiwa, ya kan,” ucapnya. (far/c6/hep)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022