
MEMBACA UANG: Boy George Rahman dengan koleksi uang rupiah khusus berupa uncut banknotes Rp 100 ribu. Pria yang juga hobi menunggang motor gede ini tak jarang melego koleksi uangnya untuk membeli pernik moge. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Bagi Boy George Rahman, uang bukan sekadar alat pembayaran. Uang juga merupakan perekam sejarah, perekat hubungan, sekaligus alat investasi. Hidup ayah tiga anak itu tak bisa dilepaskan dari uang-uang unik yang dikoleksinya sejak era 90-an.
---
FOLDER-FOLDER tebal memenuhi meja dan sofa ruang tamu rumah Boy George Rahman di Surabaya ketika dijumpai awal Desember. Uang Rp 75 ribu yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) untuk memperingati Hari Kemerdekaan Ke-75 RI terpajang rapi dalam plakat bening. Ada pula koleksi mata uang asing dalam edisi khusus.
Setiap koleksi unik itu punya cerita. ”Kalau ini, uang yang dikeluarkan bank sentral Brunei Darussalam dan Singapura untuk memperingati 50 tahun hubungan bilateral kedua negara,’’ katanya sambil menunjukkan sebuah halaman folder book berisi dua lembar uang. Uang-uang tersebut memiliki nominal yang sama, gambar yang sama, dan nomor seri yang sama. ’’Ini same currency,’’ imbuhnya, lantas membolak-balik halaman folder yang lain.
Uang kembar dolar Singapura (SGD) dan Brunei Darussalam (BND) hanya satu di antara ratusan uang langka yang Boy koleksi. Ada yang nomor serinya kembar, ada yang ukurannya jumbo (seukuran kertas A3), ada yang lembarannya tidak terpotong (uncut banknotes), ada yang dikeluarkan bank sentral berpuluh tahun lalu, ada yang nilainya khusus dan tidak diedarkan secara luas, dan ada uang keluaran untuk memperingati momen-momen istimewa.
Boy menjelaskan, uang uncut –yang untuk rupiah biasanya terdiri atas dua atau empat lembar– bisa didapatkan masyarakat dengan memesan ke Bank Indonesia (BI). ’’Tetapi jumlahnya terbatas sehingga mungkin tidak banyak yang tahu,” ucapnya.
Boy lantas hati-hati mengeluarkan uang bersambung yang disimpan dalam wadah tabung. Untuk mendapatkan uang plano (uncut banknotes yang lebih dari delapan lembar) tersebut harus ikut proses lelang dan hanya diikuti kolektor. ’’Penyelenggara lelangnya Java Auction bekerja sama dengan Peruri dan BI,” ujarnya, lantas berpose dengan koleksi uniknya itu. Boy membuka uang lembaran seperti sedang membaca koran. Dia lantas tiduran ’’diselimuti’’ uang plano.
Salah satu koleksi unik lainnya adalah uang 100 triliun dolar Zimbabwe (ZWR) keluaran 2008. Uang tersebut merupakan uang dengan angka nol terbanyak di dunia. Boy mendapatkannya dari hasil barter dengan sesama kolektor dari Jakarta. Dibarter dengan uang koin rupiah seri WWF keluaran 1974 koleksi Boy.
Boy juga memiliki uang polimer yang dia sendiri tak tahu dari mana negara asal uang tersebut. Dia mendapatkan uang itu dari penjual (seller) secara borongan. Lantaran penasaran, Boy mengunggahnya di laman Facebook. ’’Saya post foto uangnya, teman-teman juga tidak ada yang tahu itu uang dari negara mana, haha. Tapi, ya tetap saya simpan,’’ kata Boy yang juga ketua Masyarakat Numismatik Surabaya (MNS) itu.
Riwayat karier Boy yang menekuni bidang ekspor membawanya pada pemaknaan yang lebih pada uang. Seiring pekerjaannya yang sering berhadapan dengan urusan custom clearance dan bolak-balik ke money changer, Boy sering melihat mata uang asing. Dia terpikir untuk mengoleksi mata uang dari berbagai negara. ’’Tahap awal, saya koleksi uang ringgit, dinar, riyal, dolar, peso, baht, dan lain-lain yang nilainya 1,’’ ucapnya.
Setelah mulai berkenalan dengan kolektor-kolektor yang lain, Boy belajar bahwa mengoleksi uang rupanya tidak sebatas itu. Hobi numismatika juga bisa menjadi kegiatan investasi. Uang koleksi dapat ditukar atau dijual. Dari situlah seorang kolektor bisa mendapatkan untung, sekaligus menambah jumlah koleksi uang langkanya.
Perjalanan hidup mengantarkan Boy ke hobi yang lain: otomotif. Dia menyenangi motor gede (moge) Harley-Davidson. Namun, anggota Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) Surabaya itu sebenarnya bukanlah maniak touring. Berkumpul dalam komunitas HDCI baginya adalah sarana mengenalkan uang unik kepada lebih banyak orang.
Seorang ketua komunitas moge sangat berterima kasih kepada Boy karena memberinya uang koin keluaran 1951–2016. Di antara koin senilai 1 sen hingga Rp 1.000 itu, ada nominal yang mengingatkan si penerima akan uang jajan yang kerap diterima dari ibunya saat masih sekolah. ’’Dia terharu sampai (matanya) berkaca-kaca. Katanya, ’Saya senang sekali. Ini akan saya kasih lihat ke ibu saya’,’’ tutur Boy menirukan ucapan rekannya.
Untuk mengoleksi merchandise moge, terkadang Boy menjual koleksi uangnya. Atau, membantu kolektor menjualkan uangnya kepada kolektor lain. ’’Jadi, uang dan moge ini bisa mengenalkan saya lebih dekat kepada banyak orang,’’ tutur Boy.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
