Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Juli 2021 | 05.24 WIB

Mengembangbiakkan Mangga Khieo Sawoei, Wajib Pangkas agar Berbunga

MANGGA THAILAND: Tri Rachmadi menunjukkan daun mangga khieo sawoei yang daunnya lebih lebar dan hijau dari jenis mangga lainnya. Per buah bisa mencapai berat 500-600 gram. Rasa buahnya manis meski masih pencit. (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS) - Image

MANGGA THAILAND: Tri Rachmadi menunjukkan daun mangga khieo sawoei yang daunnya lebih lebar dan hijau dari jenis mangga lainnya. Per buah bisa mencapai berat 500-600 gram. Rasa buahnya manis meski masih pencit. (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)

Bosan dengan mangga golek, gadung, atau manalagi, mangga khieo sawoei bisa jadi pilihan. Varietas unggulan asal Thailand itu juga pas untuk pekebun pemula. Bandel, mudah dirawat, dan rasa buahnya pun lezat.

---

BIBIT mangga khieo sawoei yang berumur satu–dua tahun tampak rimbun di halaman Tri Rachmadi di Sukodono, Sidoarjo. Tingginya mencapai 1,5–1,6 m. Cabang-cabangnya terpangkas rapi. ”Sekilas, mirip dengan mangga lokal. Yang khas, daunnya lebih lebar dan hijau. Saat pupus pun hijau, nggak semu kuning atau merah,” imbuhnya. Tri menyatakan, mangga asal Thailand itu juga adaptif dan tangguh.

Pria kelahiran Pasuruan tersebut menceritakan, bibit mangga khieo sawoei bisa tumbuh baik saat cuaca sejuk Malang maupun saat panas lembap Sidoarjo. ”Pas lagi panas-panasnya, sekitar bulan puasa yang lalu, bibit saya di sini juga kuat. Cuma, nyiramnya memang harus dua kali karena cuacanya kering,” lanjutnya.

Keunggulan lainnya, mangga khieo sawoei lebih berat daripada mangga lokal. Bobot per buah mencapai 500–600 gram. ”Buahnya memanjang dan padat, mirip golek. Kalau sudah masak, warnanya kuning,” papar Tri. Sesuai dengan namanya, khieo sawoei –yang berarti dimakan saat hijau– bisa dinikmati sejak masih berupa mangga muda. Mangga asal Sampran, Thai, itu disebut-sebut tak memiliki rasa kecut walau masih pencit. ”Tapi, terus terang, saya nggak pernah ngicipi,” imbuhnya.

Tri menjelaskan, bibit mangga miliknya merupakan hasil cangkok. Menurut dia, teknik itu memiliki keunggulan untuk mampu mempertahankan sifat indukan. Kekurangannya, tanaman memiliki akar serabut. ”Kalau pohonnya nanti mulai tua, goyah. Tapi, kalau untuk tabulampot, saya rasa nggak masalah,” paparnya. Sebab, area tanam hanya seluas pot dan ukuran tanaman cenderung tak terlalu besar.

Berdasar pengalamannya, mangga khieo sawoei mulai belajar berbunga di usia 3 tahun. Untuk mendukung proses itu, tanaman perlu mendapat perawatan yang baik sejak kecil. Salah satunya, pemangkasan. ”Ada dua tujuan mangkas. ’Membentuk’ pohon dan membuat nutrisi yang masuk terpakai maksimal,” tegas Tri. Untuk tanaman buah dalam pot, pemangkasan juga berfungsi agar tanaman tak tumbuh terlalu tinggi.

Alumnus Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Malang, itu menyarankan pemangkasan satu-tiga. Misalnya, dari satu cabang utama, ranting yang tumbuh dibatasi maksimal tiga. Jika terlalu banyak ranting, tanaman bakal sulit rimbun. Prinsip serupa juga berlaku ketika tanaman mulai masuk fase buah. ”Tak semua bakal buah harus ’dijadikan’ alias dibiarkan menjadi buah,” ucapnya.

Penggemar anggrek itu berbagi tip merawat mangga khieo sawoei yang baru kali pertama berbuah. Dia menjelaskan, dalam satu dompol bunga, baiknya hanya sisakan satu–dua bakal buah. Agar bakal buah tak gampang rontok, Tri juga memberikan pupuk dengan kandungan kalsium dan MKP (monokalium fosfat). Plus, brongsongan atau pelindung buah.

Tri mengibaratkan masa berbuah sama dengan melahirkan. Sama-sama fase yang melelahkan. Untuk mendukung pemulihan, dia biasa memberikan tambahan vitamin seperti pupuk organik cair atau humus. Memangkas cabang atau mengurangi daun juga bisa dilakukan. Dengan pemulihan yang baik, pemilik usaha kuliner itu menilai, mangga khieo sawoei siap berbunga lagi. ”Sekitar 6–12 bulan setelah buah, biasanya keluar bunga lagi,” paparnya.

---

MERAWAT MANGGA KHIEO SAWOEI

Photo



  • Di Thailand, mangga khieo sawoei dibudidayakan besar-besaran di perkebunan. Namun, tidak berarti ia tak bisa ditanam dalam pot. Berikut petunjuknya.


MEDIA TANAM

  • Gunakan campuran tanah kebun, pupuk kandang/humus, dan batu. Tujuannya, tanah tak terlalu padat dan bisa meneruskan air dengan baik

  • Bila tanah terlalu asam, berikan tambahan dolomit (gamping). Jika tanah terlalu asam, daun terlihat pucat kekuningan meski sudah dipupuk dan disiram.


PEMUPUKAN

  • Mangga khieo sawoei tidak membutuhkan pupuk berdosis ”kuat”. Cukup berikan NPK atau pupuk organik cair.


PENYIRAMAN

  • Jika cuaca panas kering, penyiraman bisa dilakukan 2–3 kali. Namun, untuk penyiraman harian cukup sehari sekali.

  • Untuk menjaga kelembapan media tanam di musim kemarau, bagian atas tanah bisa ditutup daun-daun kering atau mulsa.

  • Cek media tanam sebelum menyiram. Caranya, masukkan jari ke media tanam.


SAAT BARU MEMBELI BIBIT

Photo



  • Letakkan di tempat yang terlindung paparan matahari langsung selama 3–4 hari.

  • Berikan vitamin B1 sesuai dengan petunjuk pakai.

  • Ketika memindahkan tanaman ke pot, sisakan tanah di sekitar akar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore