Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 21.08 WIB

Pelajaran Bagi Dunia, Jalan Pulang bagi Umat

Hasyim Arsal Alhabsi. (Dok. Pribadi) - Image

Hasyim Arsal Alhabsi. (Dok. Pribadi)

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi

Setelah menelusuri sejarah, strategi, spiritualitas, dan peran zaman yang disandang Yaman, kita kini tiba pada bagian paling penting: apa makna semua ini bagi dunia? Apa yang bisa dipelajari dari negeri kecil yang tak kunjung tunduk ini? Dan lebih dalam lagi, apakah Yaman hanya cermin untuk melihat nasib sendiri—atau sebenarnya kompas yang menunjukkan arah pulang umat yang tersesat?

Bagian kelima ini bukan sekadar refleksi, tapi ajakan untuk merenung dan bangkit. Karena jika harga diri bisa tumbuh dari puing-puing, maka tak ada alasan bagi bangsa-bangsa lain untuk terus hidup dalam kerendahan buatan.

1. Hidup Boleh Sulit, Tapi Jangan Murahan

Yaman adalah contoh hidup bahwa kemiskinan bukan alasan untuk tunduk, dan keterbatasan bukan alasan untuk berkhianat. Di tengah embargo, mereka memilih berdikari. Di bawah bombardir, mereka menolak menyerah.

Di dunia yang mudah kompromi demi kenyamanan, Yaman mengingatkan kita bahwa martabat lebih mahal dari materi.

Ini pelajaran yang sangat penting untuk bangsa mana pun yang sedang tergoda menyerahkan prinsip demi pinjaman luar negeri, demi kursi kekuasaan, atau demi posisi strategis semu.

2. Pembangunan Tanpa Keadilan adalah Tipuan

Banyak bangsa mengukur kemajuan dari gedung tinggi, jalan tol, dan pusat perbelanjaan. Tapi Yaman memperlihatkan bahwa:
• Pembangunan tanpa keadilan hanya memperindah penjara.
• Kemajuan tanpa harga diri hanyalah maket dari kehancuran spiritual.
• Bangunan fisik tidak berarti jika manusia di dalamnya tidak lagi memiliki prinsip.

Yaman hancur secara infrastruktur, tetapi pilar-pilar batin masyarakatnya tetap berdiri. Dan dari sanalah mereka bangkit.

3. Yaman Menghidupkan Kembali Islam Sebagai Kekuatan Pembebas

Di banyak tempat, Islam telah dikerdilkan menjadi ritual kosong atau instrumen kekuasaan. Tapi di Yaman, Islam:
• Hidup dalam darah dan pengorbanan.
• Menghidupkan keberanian, bukan ketakutan.
• Membakar semangat untuk berdiri, bukan berlutut.

Yaman mengajarkan bahwa Islam tidak harus defensif, apalagi apologetik. Ia adalah agama yang menantang kebatilan, bukan menyesuaikan diri dengan kezaliman.

4. Bagi Indonesia: Saatnya Belajar dari Negeri Kecil yang Besar

Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi luar biasa. Namun kadang kita terlalu sibuk mencari pengakuan, terlalu takut pada tekanan global, dan terlalu mudah melepas prinsip demi stabilitas jangka pendek.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore