
TRADISI RATUSAN TAHUN: Para santri membaca surah Yasin sambil berdiri selepas menunaikan salat Subuh di Ponpes Al-Hamdaniyah.
JawaPos.com - Kesan sederhana sangat tergambar ketika memasuki pondok yang diketahui merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Jawa Timur. Meski terkesan sederhana dan kuno, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah di Desa Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo, ini menjadi tempat para ulama besar di Indonesia menimba ilmu.
Masuk ke bagian dalam bangunan berbentuk rumah joglo yang mengitari masjid utama menjadi pemandangan yang cukup menarik.
Bangunan joglo yang seluruhnya terbuat dari kayu itu adalah tempat tidur para santri yang menimba ilmu di ponpes.
”Itu ada sejak awal pendirian, saat pendiri KH Hamdani atau yang dijuluki Mbah Panji mendirikan pondok di sini,” ungkap pengasuh ponpes Kiai Hasyim Fahrurozi saat ditemui. Pria 50 tahun itu menyampaikan, dari sumber yang ada pondok diperkirakan berdiri sejak 1787.
Pada Ramadan, Hasyim menyatakan bahwa tidak banyak kegiatan khusus yang dilakukan ponpes yang dijuluki Pondok Panji tersebut. ”Memang ada semacam pondok Ramadan, tapi dengan kegiatan santri sama di setiap harinya,” katanya.
Namun, salah satu hal unik adalah cara membangunkan para santri untuk salat malam dan sahur dengan memakai tongkat. ”Tongkatnya dipukulkan ke lantai kamar pondok yang terbuat dari kayu. Mereka tidur diketok-ketok sehingga langsung bangun,” jelasnya.
Kegiatan seperti tadarus Alquran, kajian kitab kuning, qiyamul lail, dan taharah juga dilakukan para santri. ”Khataman Alquran dari yang biasanya bisa sebulan selesai dipercepat hanya setengah bulan untuk setoran khataman,” ujarnya.
Menurut Hasyim yang merupakan generasi kedelapan pengasuh ponpes ini, metode pembelajaran masih menggunakan sistem salaf atau sistem kuno. ”Yaitu, dengan sorogan dan bandongan,” ungkapnya.
Selain itu, salah satu hal yang rutin dilakukan pada Ramadan tahun ini di Ponpes Al-Hamdaniyah adalah pembacaan yasin bersama-sama dengan berdiri. ”Ini dilakukan selepas subuhan oleh seluruh santri dan dilaksanakan di masjid utama,” jelasnya.
Menurut Hasyim, kegiatan ini memang sudah berlangsung ratusan tahun dan menjadi tradisi bagi para santri yang belajar di ponpes tersebut. (eza/c14/git)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
