
KERAP JADI TEMPAT IJAB KABUL: Masjid Ramlie Musofa, Jakarta Utara, yang gaya arsitekturnya ala Taj Mahal di India (22/3). Selama Ramadan, masjid ini menyediakan 100 boks takjil tiap harinya.
Babe Ingin Buktikan Minoritas Juga Bisa Berkontribusi ke Islam
Keelokan Masjid Ramlie Musofa menjadikan masjid di Jakarta Utara ini kerap jadi pilihan tempat ijab kabul dan foto pra-pernikahan. Tak boleh ada yang membawa "bendera A, B, atau C” ke dalam masjid.
SUGIH MULYONO, Jakarta Utara
---
ADA alasan khusus kenapa Ramlie Rasidin ingin menyerupakan masjid yang dia bangun di dekat Danau Sunter, Jakarta Utara, dengan Taj Mahal. Dia ingin agar masjid yang kemudian diberi nama Ramlie Musofa itu bertahan lama, begitu pula para jemaahnya.
"Almarhum berharap masjid ini serupa Taj Mahal yang tahan beratus tahun. Tapi, bukan bangunannya saja, orang-orang yang beribadah di sini juga tahan beratus tahun," jelas Musofa Sofyan, pengurus masjid sekaligus anak Ramlie Rasidin, kepada Jawa Pos Rabu dua pekan lalu (22/3).
Gaya arsitektur masjid yang mulai dibangun pada 2011 dan selesai pada 2016 itu memang mirip dengan bangunan terkenal dari India tersebut. Ada pula sentuhan ornamen Mandarin yang melengkapi keindahan masjid yang terletak di Jalan Danau Sunter Raya Selatan Blok 1/10 Nomor 12C–14A, Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu.
Keelokan itu pulalah yang membuat masjid tersebut banyak dipilih sebagai tempat melangsungkan ijab kabul dan foto pra-pernikahan. ’’Di sini ijab kabul dan foto pre wedding itu gratis. Begitu juga kegiatan lainnya,’’ ungkap Sofyan.
Sofyan menambahkan, sang ayah mendirikan masjid karena ingin membuktikan kecintaannya kepada Islam, kepada Allah, Rasulullah, serta Alquran. Terlebih, menurutnya, etnis Tionghoa seperti dia dan keluarga kerap dianggap sebagai ’’Islam KTP”.
’’Jadi, almarhum ingin membuktikan bahwa minoritas seperti kami juga bisa memberikan kontribusi untuk Islam Indonesia, khususnya Jakarta’’ terangnya.
Namun, proses pembangunan masjid, tutur Sofyan, memang membutuhkan waktu cukup lama. Sebab, masjid tersebut terletak di lingkungan dengan warga mayoritas nonmuslim. Otomatis butuh persetujuan dari warga sekitar yang berjumlah 88 kepala keluarga.
’’Nah, dari saat sosialisasi kepada warga itulah ada persyaratan-persyaratan yang diajukan. Salah satunya, tidak boleh menggunakan toa masjid,’’ bebernya.
Bahkan, warga sekitar sebenarnya juga tidak membolehkan penggunaan beduk. Namun, terkait hal tersebut, almarhum ayahnya bernegosiasi. ’’Jadi, almarhum bilang beduk kan paling cuma satu menit, seperti lonceng di gereja juga. Nah, akhirnya warga setuju dan membolehkan beduk,’’ tuturnya.
Sedangkan terkait toa, kata Sofyan, almarhum sang ayah menyetujui. Salah satunya karena didasari bahwa toa masjid tergolong teknologi baru.
’’Toa itu paling baru 100 tahun ada. Islam sendiri sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan tanpa toa, Islam pun jaya,’’ katanya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
