
Warga beribadah di Masjid Jamie Darussalam yang berlokasi di, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2022). Masjid Jamie Darussalam merupakan salah satu masjid dengan arsitektur yang indah dan unik di Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.
JawaPos.com - Bulan Ramadan kini sudah memasuki malam ke-22. Itu artinya kita melaksanakan ibadah puasa mulai memasuki 10 hari ketiga atau 10 hari terakhir bulan Ramadan di tahun ini.
Keistimewaan yang terkandung dalam 10 hari terakhir sangat besar adanya kemungkinan malam lailatul qadar. Meskipun tak diketahui secara pasti kapan persisnya malam yang lebih baik dari 1000 bulan ini datang, Rasulullah yang meningkatkan ibadah dan rutin melakukan iktikaf di masjid mengindikasikan malam lailatul qadar ada pada 10 hari terakhir.
Pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, disebut sebagai pembebasan dari api neraka atau itqun minan nar sesuai dengan hadits Nabi. 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua maghfirah dan 10 hari terakhir itqun minan nar.
Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ), Dr. Abdul Muid Nawawi mengatakan, antara rahmat, maghfirah dan itqun minan nar adalah satu kesatuan yang berkelanjutan. Untuk mendapatkan ketiganya sekaligus harus dimulai dari keseriusan kita sejak awal Ramadan sampai akhir dalam melaksanakan ibadah dan menempa diri dengan amalan kebaikan.
Selain melaksanakan ibadah puasa dan amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Ramadan, juga membuka diri kita untuk memberikan rahmat, kasih sayang ke orang-orang.
Demikian juga pada 10 hari kedua bulan Ramadan, untuk mendapatkan maghfirah atau ampunan dari Allah, kita juga mensucikan diri kita dari penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, jahat ke orang lain, dan sejenisnya. Sebaliknya kita berusaha membuka diri kita memberikan maaf ke orang orang dengan harapan kita juga mendapatkan ampunan dari Allah.
Dan di 10 hari terakhir bulan Ramadan, level mental dan spiritual kita seharusnya naik lagi. Untuk dapat terbebas dari api neraka, kita harus memiliki sifat penyayang, suci dari penyakit hati, membuka seluas luasnya pintu maaf ke orang lain dan melakukan hal-hal yang dapat membebaskan penderitaan atau kesusahan orang lain. Menurut Abdul Muid Nawawi, neraka tidak hanya diartikan di akhirat kelak. Segala bentuk kesusahan di dunia juga termasuk neraka.
"Mau kah kita mendapatkan pembebasan dari api neraka di akhirat? Bebaskan neraka atau kesusahan orang di bumi ini. Untuk mampu membebaskan orang dari kesusahan, orangnya harus penyayang penuh rahmat, harus pemaaf, baru dia akan mampu punya kekuatan untuk membebaskan kesusahan- kesusahan orang," tutur Abdul Muid Nawawi. "Kita tidak perlu banyak bermimpi terbebas dari neraka ketika di dunia ini sering membuat neraka bagi orang lain," imbuhnya. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022