
Photo
JawaPos.com - Ada sejumlah alasan bagi Cholivia Mayangsari memilih beribadah di musala lantai 3 P7 Malang Town Square (Matos). "Di sini nyaman dan bersih," terang mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim itu kepada Jawa Pos.
Selain itu, tempat yang strategis menjadi poin utama bagi Mayang. "Tadi kan ke sini bareng temen. Sebenarnya mau cari buka di mal, terus keinget milih mal ini karena paling enak buat ibadah. Lebar dan nggak jauh. Maksudnya, letaknya itu pas banget. Biasanya kan jauh, kayak ada di lorong-lorong mal," sambungnya.
Perempuan 23 tahun itu mengatakan, musala yang bisa menampung 400 jamaah tersebut merupakan musala terbesar yang ada dalam mal di Malang. "Itu kalau dibandingkan sama dua mal lain di Malang," jelasnya.
Operational Manager Malang Town Square Suwanto mengatakan, kebersihan dan kenyamanan musala memang mendapat perhatian dari manajemen. "Kami memang ingin memberikan yang terbaik untuk hal ibadah," tuturnya.
Dia menjelaskan, jamaah yang beribadah di dalam musala tersebut selalu penuh. Karena itu, fasilitas seperti mukena, tempat wudu, dan desain musala sangat diperhatikan. "Duluuu sebelum ada musala ini, tempat salatnya ada di dalam mal. Waktu itu ukurannya kecil. Mungkin hanya sekitar 50 meter persegi. Pokoknya nggak enak kalau buat ibadah," ceritanya.
Akhirnya, musala lama tersebut dibongkar. Manajemen memutuskan untuk membangun musala baru di lahan parkir P7 tersebut.
Mengenai desain, Suwanto mengatakan ikut berpartisipasi menyumbang ide. Musala dengan luas 150 meter persegi itu didesain vintage. Memadukan marmer berwarna cokelat bermotif batu bata dengan warna dinding putih tulang. "Jadi, desainnya kami buat clean dan modern," sambungnya.
Sisi utara bagian luar musala dihiasi lukisan realis bergambar pemandangan gurun. Lengkap dengan unta dan rumah-rumah berwarna cokelat. Bebatuan asli berwarna putih menghiasi bagian depan gambar tersebut. Begitu melihatnya, suasana Timur Tengah langsung terasa.
Pintu masuk dan keluar musala dibedakan untuk mengantisipasi terblokadenya jalan. Jika jamaah masuk lewat pintu sebelah selatan, mereka harus keluar lewat pintu utara. Jadi, saat sedang penuh-penuhnya, tidak terjadi penumpukan antara jamaah yang hendak masuk dan jamaah yang mau keluar.
Saat Ramadan tiba, di luar musala digelar dua karpet merah di atas papan kayu. Di karpet merah tersebut, disediakan takjil. Ada 300-an setiap hari. "Meskipun ini musala, setiap Ramadan kami juga mengadakan Tarawih," sambung Suwanto.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
