Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Juni 2018 | 19.05 WIB

Bangor Jualan Mercon, Polisi Jadi Musuh Setyo Kecil

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto - Image

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto

JawaPos.com - Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri selalu menyelipkan kenangan bagi setiap insan muslim di Indonesia. Tak terkecuali bagi Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.


Setiap kali balik ke kampung halamannya di Semarang, Jawa Tengah, pada hari raya, anak buah Kapolri Jenderal Tito Tito Karnavian itu terkenang bahwa dirinya pernah menjual bahan peledak berskala kecil seperti mercon.


"Zaman kecil saya nakal. Saya tukang jualan mercon dulu. Kecilnya jualan mercon sekarang jadi polisi tukang nangkepin yang jualan mercon," kenangnya sembari tertawa menceritakan hal tersebut kepada JawaPos.com beberapa waktu lalu.


Mercon tersebut dijualnya jelang hari raya. Setyo mengaku ketika itu umurnya sekitar delapan tahun dan baru mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD).


Namun Setyo cukup mahir berjualan. Bahkan dia tau ciri-ciri calon pembeli dengan menunggu di depan gang tak jauh dari rumah. "Kita tau nih orang-orang ini orang dari luar kampung mau beli mercon. Tapi begitu tau reserse, lari semua. Jadi dulu kita musuhan sama polisi sekarang jadi polisi," katanya geli mengingat kal itu.


Tak hanya kenangan di masa kecil, Setyo juga punya pengalaman berkesan ketika harus bertugas jelang lebaran. Saat itu di Indramayu, dia harus menangani pencurian dengan kekerasan, yakni begal.


Para pemudik yang melintas di Indramayu harus menghadapi para begal yang tindakannga terlampau sadis. Sebab satu kasus, begal tersebut membacok tangan pemudik hingga putus.


Akhirnya, Setyo yang saat itu menjadi Kapolres, bersama anak buahnya coba menghadang aksi begal hingga tertangkap dan akhirnya ditembak mati karena melawan.


"Lebaran bagi polisi tugas ini amal ibadah. Sampai sekarang orang-orang libur kita tugas," imbuhnya.


Ya, sejak menjadi anggota Kepolisian, Setyo lebih banyak bertugas di hari raya. Kendati demikian, dia tetap menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan keluarga. "Keluarga saya yang lain kumpul dulu, kemudian saya menyusul. Lalu ziarah ke makam leluhur. Kira nostalgia di kampung. Ingat zaman kecil seperti apa," tambahnya.


Setyo pun tak mau ketinggalan makanan khas yang selalu tersedia di hari raya. "Wajib ada opor sama lontong. Jangan ketipu kaleng khong guan isinya rengginang," guyonnya lagi.


Berbicara tentang makanan saat lebaran, Setyo kembali terkenang dengan makanan kesukaannya saat kecil dulu. Yakni tape ketan buatan nenek. Bisa dibilang, tape ketan tersebut pun selalu ditunggu-tunggu rekannya.


"Dulu saya ke nenek saya, teman-teman sepermainan saya di Magelang itu nggak mau pulang kalau tape ketan yang dibungkus daun jambu belum keluar," tuturnya.


Cukup mengenang masa lalu, Setyo tak lupa mengucapkan selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. Katanya lebaran menjadi momentum untuk pribadi intropeksi diri.


Dia pun berharap bagi para pemudik kembali dengan aman. "Selamat mudik jaga kesalamatan diri, keluarga, selamat smapai tujuan. Kemudian kembali ke tempat asal, duitnya jangan dihabiskan," tutupnya kembali tertawa.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore