
Mannusai, porter tua di pelabuhan Sota, Makassar menceritakan minimnya pendapatan di puncak mudik lebaran, Rabu (13/6).
JawaPos.com - Pada umumnya, momentum mudik dimanfaatkan para penyedia jasa angkutan berat, buruh kasar atau porter di pelabuhan, hingga pedagang-pedagang asongan, sebagai ladangnya berkah untuk mendapatkan tambahan rejeki.
Begitu membludaknya orang-orang untuk melaksanakan aktifitas mudik, membuat mereka menjadikan pelabuhan sebagai rumah rejeki. Apa lagi menjelang Idul Fitri, setidaknya bisa membuat pengahasilan itu bertambah di bandingkan dengan hari-hari biasanya.
Sayangnya, hal itu justru tak lagi berlaku bagi Mannusai, 63, seorang buruh pengangkut barang bawaan penumpang atau porter di pelabuhan Soekarno-Hatta (Sota), Makassar. Laki-laki yang sudah lebih 30 tahun berkerja sebagai porter di pelabuhan Sota ini, mengeluhkan pendapatan yang sangat minim pada momentum mudik lebaran ini.
"Iya, saya juga sebenarnya heran kenapa. Saya ndak tahu juga kenapa. Kalau dibilang faktor umur, ndak juga, karena kalau hari-hari biasanya apa, selain mudik, kadang lumayan yang saya bisa bawa pulang. Tapi sampai hari-hari begini, saya biasa hitung-hitung kenapa kurang pendapatan," ungkap warga jalan Galangan Kapal, kota Makassar ini disela-selan aktifitasnya berkerja di pelabuhan Sota, Rabu (13/6) dini hari.
Ayah 4 orang anak ini, membandingkan dengan pendapatannya pada momentum mudik dengan hari-hari biasanya. Dimana kapal, bersandar di pelabuhan Sota Makassar dan membawa penumpang yang justru jumlahnya sangat berbeda jauh dengan musim mudik lebaran.
Mannusai mengaku, di hari-hari biasanya, pendapatan yang ia kantongi dalam sehari kadang kala mencapai Rp 150 hingga Rp 200 ribu. Namun, sejak masuknya musim puncak mudik khususnya pada H-7 hingga H-2 saat ini, pendapatan yang ia terima justru menurun drastis.
Kadang kala, dalam sehari penuh dari pagi hingga malam, apabila armada kapal penumpang yang masuk 3 unit dengan berbagai rute, ia paling banyak mendapat hingga Rp 100 ribu. "Jangan sampai dikira saya main-main bisa ditanyakan langsung sama saya punya teman. Mereka juga biasa heran kalau sudah hitung rejeki, kenapa saya dapat kurang padahal ini musim bagus, musim lebaran, sata tahun satu kali," ujarnya.
Untuk sekali pengangkatan barang bawaan penumpang, ia mematok harga mulai dari Rp 40 ribu sampai Rp 100 ribu. Rute itu berlaku dari atas kapal, dek manapun, hingga lokasi kedatangan tepatnya di pintu keluar utama penumpang yang baru datang. "Biasa juga tergantung dari berapa tawarannya itu penumpang karenakan kita tidak bisa paksakan. Apalagi banyak sekali buruh (porter) kayak saya. Jadi kalau harga coco, kita angkatkan barangnya sampai di bawah," akunya.
Faktor usia menurutnya, bukan suatu hambatan untuk berkerja keras mengangkut barang bawaan penumpang demi mendapatkan rejeki halal di bulan berkah. Menggeliatnya porter-porter muda yang masih sangat gesit dan lincah, untuk berlomba mengangkut barang penumpangpun, dianggapnya bukanlah suatu halangan.
Katanya, untuk mendapatkan rejeki, bukan karena muda atau tuanya seseorang. Rejeki menurutnya telah diatur untuk diberikan kepada masing-masing orang. "Banyak memang kita liat sendiri, masih banyak yang segar-segar dari pada saya yang sudah tua begini. Tapi kayaknya bukan itu faktor utamanya. Tapi mungkin memang rejeki saya di hari-hari yang lain," tuturnya pasrah.
Selain hanya bisa pasrah, di tengah-tengah persaingan dengan porter-porter muda lainnya, namun kondisi itu tak membuatnya patah semangat. Selama pelabuhan ini masih tetap beroperasi dan selama fisiknya masih tetap bergerak, saat itu pula semangat untuk terus berkerja ia lakukan.
"Namanya kita cari rejeki mau bagaimana fisik yang penting kita mau kerja. Mungkin ada rejeki lain hari yang di atur sama tuhan. Kalau bukan mungkin sekarang-sekarang ini paling besok-besok lagi," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
