
Photo
JawaPos.com - Menjalankan ibadah puasa di daerah yang minoritas muslim adalah tantangan sekaligus pengalaman langka yang tentu tidak akan terlupakan. Ini yang dirasakan oleh Dwi Septiyanda yang kini tengah menimba ilmu program pasca sarjana di Queen’s University Belfast, Inggris, United Kingdom.
Jejeran takjil berbagai jenis dan rasa yang tersaji di atas meja-meja panjang tak lagi kelihatan saat Ramadan tahun ini. Pemandangan yang saban tahun tersaji di tanah air sepanjang Ramadan, kini bagi Winda (Sapaan akra Dwi Septiyanda) yang sedang menempuh gelar masternya di Belfast, Inggris , hanya sebatas bayangan.
Ya, itulah kali pertama Winda menikmati bulan suci Ramadan di luar Indonesia. Tak hanya soal makanan untuk persiapan berbuka, namun tinggal di daerah minoritas muslim juga jadi tantangan tersendiri.
Pasalnya, jika di Jambi begitu mudahnya mendengarkan suara adzan menggema, tidak demikian di Belfast, ibu kota sekaligus kota terbesar di Irlandia Utara.
Tidak ada suara azan yang biasanya terdengar di masjid-masjid ketika memasuki waktu shalat di kota terbesar ke-14 di Inggris yang memiliki jumlah populasi sekitar 267.500 jiwa ini.
"Tidak ada pula ajakan sahur yang biasanya diserukan keliling kampung menjelang waktu sahur tiba,’’ ujar Winda sebagaimana dilansir Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Senin (12/6).
Menurut Winda, berbeda dengan waktu puasa di Indonesia yang biasa dilakukan sekitar 13-14 jam saja, di Belfast, harus menjalani puasa hampir 19 jam. Musim panas membuat durasi waktu siang menjadi lebih lama dibanding waktu malam. Matahari terbit lebih awal, tetapi lebih lama terbenam dibandingkan waktu Indonesia.
“Ini pertama kalinya saya menjalankan ibadah puasa di luar Indonesia, dan di negara minoritas muslim. Puasanya hampir 19 jam. Mulai imsak dan subuhnya sekitar 2:30, dan terbenam mataharinya atau waktu buka puasanya sekitar jam 10 malam. Kebetulan memang sekarang sedang summer, jadi memang waktu siangnya lebih lama dibanding waktu malam,’’ ujarnya.
Tidak cuma waktu berpuasa yang berbeda dan lebih panjang dibanding di Indonesia, kata Winda, tempat beribadah sejenis masjid pun terbatas dan tidak sebanyak di Indonesia tentunya. Kalau pun ada, tidak seperti masjid umumnya, hanya seperti bangunan yang dijadikan Islamic Centre, dan tidak diperbolehkan mengumandangkan azan dengan pengeras suara seperti di Indonesia.
Biasanya azan dikumandangkan dengan volume pengeras suara yang hanya terdengar di dalam ruangan tersebut saja.
“Di Belfast kebetulan ada 2 Islamic Centre yang bisa dipakai untuk beribadah. Khusus ketika bulan Ramadan seperti saat ini, biasanya juga disediakan santapan berbuka puasa. Menjelang waktu berbuka, biasanya banyak warga Muslim yang datang ke salah satu tempat tersebut untuk merasakan buka puasa bersama dengan sesama muslim lainnya. Banyak Muslim dari negara lain, seperti Oman, Pakistan, Bangladesh dan Malaysia. Menu buka puasanya biasanya ala Timur Tengah,’’ ujarnya.
Selain itu, perbedaan yang paling terasa bagi Winda adalah perubahan pola makan. “Karena waktu untuk makan kurang lebih hanya 5 jam, selebihnya berpuasa. Jeda waktu buka puasa dengan waktu sahur hanya sekitar 3 jam, jadi ketika masih kenyang setelah makan di jam berbuka, 3 jam berikutnya kita sudah harus makan lagi untuk sahur. Hal ini yang membuat kami memang harus mengatur porsi makan dan sahur dengan tepat supaya nggak kekenyangan, tapi juga kebutuhan asupan makanan tetap terpenuhi,’’ katanya.
Perubahan pola dan jam tidur juga menjadi tantangan berikutnya. Waktu isya dan shalat tarawih baru dimulai sekitar 23.30, dan selesai sekitar jam 1 malam. “Biasanya banyak yang memutuskan untuk nggak tidur dan langsung menyambung bersiap untuk sahur, karena waktu imsak jam 2.30. Jadi, baru tidur setelah subuh, sekitar jam 3-an ke atas,’’ sebutnya. (ist/nas/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
