
SEJUK: Bukit Paralayang Sidoluhur, yang berlokasi di Gunung Tumpuk, Lawang, Kabupaten Malang.
JawaPos.com - Bosan ngabuburit alias menunggu waktu berbuka puasa di mal atau kafe? Mungkin ngabuburit di salah satu destinasi wisata di Kabupaten Malang ini bisa dicoba.
Bukit Paralayang Sidoluhur berada di Gunung Tumpuk, Lawang. Maret lalu, Bupati Malang Rendra Kresna meresmikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata. Kini, pengunjung di Bukit Paralayang Sidoluhur terus bertambah.
Apalagi pada bulan Ramadan seperti sekarang. Sore menjelang Magrib, venue take off paralayang tersebut ramai dikunjungi warga. Biasanya, mereka menghabiskan waktu dengan menikmati panorama di Gunung Tumpuk sembari menunggu waktu buka puasa.
Destinasi wisata Bukit Paralayang Sidoluhur berada di ketinggian sekitar 1.280 meter di atas permukaan laut (mdpl). Udara sejuk dan hamparan kebun penduduk yang hijau menawarkan kesenangan tersendiri.
Menuju Desa Sidoluhur cukup mudah. Dari Kota Malang, tinggal menuju ke arah utara dan sampai ke kawasan Bedali. Setibanya di sana, pengunjung disarankan untuk melewati jalur alternatif menuju ke Sidoluhur.
Sebab jika melewati Sumberwuni, maka jalur yang ditempuh akan lebih jauh karena memutar. Melalui jalur alternatif memang ada baiknya bersama rekan. Meski bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat, namun lokasinya cukup sepi. Kanan dan kiri kebun tebu, perkebunan warga dan pabrik.
Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit, pengunjung akan bisa menemukan Kantor Desa Sidoluhur. Dari sini, perjalanan akan semakin menyenangkan. Tanaman hijau yang asri terkesan memanjakan mata.
Nanti, pengunjung akan melewati jalan dengan kontur menurun dan belokan tajam. Pastikan rem kendaraan ciamik jika tidak ingin tersungkur. Suasana sejuk dengan aroma segar pinus juga bisa dirasakan. Bahkan ketika mendung, kabut tipis turut mewarnai suasana.
Kades Sidoluhur Mulyoko mengatakan, banyak warga memanfaatkan waktu dengan menyaksikan panorama di atas Gunung Tumpuk. Jika cuaca cukup cerah, bukan tidak mungkin bisa menikmati sunset di gunung tersebut. "Cukup banyak (warga yang datang). Lumayan lah," kata Mulyono kepada JawaPos.com, Sabtu (26/5).
Meksi Ramadan, aktivitas paralayang masih dilakukan. Biasanya dilaksanakan pagi hari. Jika wisawatan tidak punya kemampuan terbang namun ingin merasakan serunya berparalayang, akan ada penandem atau instruktur yang menemami ketika terbang.
"Terbangnya pagi. Tapi harus janjian dulu. Nanti ada instruktur yang biasanya menemani tandem," kata laki-laki yang sudah enam kali terbang paralayang itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
