
Umat muslim melaksanakan ibadah sholat tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (11/3/2024).
JawaPos.com - Penetapan awal bulan Hijriah selalu menjadi perhatian publik dari tahun ke tahun, terutama menjelang penetapan hari-hari besar dalam Islam seperti 1 Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Muhammadiyah selama puluhan tahun dikenal konsisten menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Namun kini, Muhammadiyah mengembangkan pendekatan baru melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis kriteria astronomis global.
Metode hisab Muhammadiyah versi lama dan baru tentu saja memiliki perbedaan. Apa saja perbedaannya? Berikut penjelasan singkatnya.
Metode hisab hakiki wujudul hilal merupakan pendekatan klasik yang telah lama digunakan Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Dalam metode ini, awal bulan ditetapkan apabila memenuhi tiga syarat utama. Yaitu telah terjadi ijtimak (konjungsi), ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan saat matahari terbenam posisi bulan sudah berada di atas ufuk.
Pendekatan ini tidak mensyaratkan hilal harus terlihat secara kasat mata. Selama secara hisab bulan sudah “wujud” di atas ufuk, maka awal bulan Hijriah dinyatakan dimulai.
Keunggulan metode ini adalah memberikan kepastian kalender dari jauh-jauh hari, tidak bergantung pada kondisi cuaca, dan konsisten secara metodologis.
Namun, metode ini bersifat lokal atau nasional karena perhitungan mengacu pada wilayah Indonesia. Akibatnya, potensi perbedaan awal bulan Hijriah dengan negara lain tetap terbuka.
Seiring perkembangan ilmu astronomi dan realitas umat Islam yang hidup di era global, Muhammadiyah kemudian mengembangkan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Pendekatan ini bertujuan untuk menghadirkan satu kalender Hijriah yang berlaku secara global dengan basis kriteria astronomis modern.
Dalam KHGT, penentuan awal bulan tidak hanya mempertimbangkan “wujud” bulan di atas ufuk di satu wilayah, tapi juga memperhitungkan kemungkinan keterlihatan hilal secara astronomis di kawasan bumi tertentu.
Parameter yang digunakan meliputi tinggi bulan (altitude), elongasi bulan–matahari, umur bulan pasca-ijtimak, serta peta visibilitas hilal global berbasis data astronomi modern. Standar yang digunakan lebih ketat yaitu mimimal ketingggian hilal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Pendekatan global ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha antarnegara, serta mendorong terbentuknya kalender Islam internasional yang seragam.
Perbedaan utama antara hisab hakiki wujudul hilal dan KHGT Muhammadiyah terletak pada skala penerapannya serta kriteria penetapan awal bulan.
Metode lama bersifat lokal dan cukup dengan terpenuhinya syarat “wujud” bulan di atas ufuk. Sementara KHGT bersifat global dan mensyaratkan kemungkinan keterlihatan hilal secara astronomis di wilayah permukaan bumi tertentu dengan kriteria mimimal ketingggian hilal 5 derajat dengan elongasi 8 derajat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
