Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Februari 2025 | 19.25 WIB

Mengenal Perbedaan Metode Penentuan Awal Ramadhan Antara NU dan Muhammadiyah

 
 
 

Ilustrasi Ramadhan. (Freepik)

 
JawaPos.com - Dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki metode yang berbeda dalam menetapkan 1 Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Dengan adanya perbedaan metode yang digunakan, bisa saja 1 Ramadhan antara NU dan Muhammadiyah berbarengan, tapi bisa juga berbeda di tahun 2025 ini. 
 
Perbedaan itu tentu bukan hal yang perlu diperdebatkan. Karena kedua metode yang digunakan sama-sama baik dan kedua metode tersebut dibenarkan secara hukum Islam. 
 
Metode Penetapan 1 Ramadhan Menurut Muhammadiyah
 
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah diketahui telah  mengumumkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah dari jauh-jauh hari. Bukan hanya 1 Ramadhan, 1 Syawal atau  Lebaran Idul Fitri 2025 sudah diketahui berdasarkan perhitungan Muhammadiyah.
 
Menurut Muhammadiyah, awal puasa atau 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025. Sedangkan 1 Syawal  atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 31 Maret 2025.
 
Muhammadiyah mengetahui kapan jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 Syawal dari jauh-jauh hari karena menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. 
 
Dengan metode perhitungan yang dipedomani Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, tidak diperlukan melihat penampakan hilal secara langsung dan mengukur ketinggiannya.
 
 
Metode Penetapan 1 Ramadhan Versi NU
 
Nahdlatul Ulama selalu menggunakan metode rukyatul hilal dalam menetapkan hari-hari besar dalam Islam, termasuk dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
 
Di kalangan NU, metode hisab sebenarnya dilakukan sebagai pedoman sekunder. Namun yang paling menentukan adalah metode rukyatul hilal.  Dengan metode ini, penentuan 1 Syawal atau 1 Ramadhan tidak dapat ditentukan dari jauh-jauh hari karena harus melihat penampakan hilal secara langsung untuk melihat dan mengukur ketinggian hilal.
 
Adapun kriteria imkan rukyah yang  dipedomani NU adalah ketinggian hilal sekitar 3 derajat dan 6,4 derajat untuk elongasi hilal hakiki. 
 
 
 
Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore