
SERASA ASPIRASI: Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut PT Pelni Yossianis Marciano (dua dari kiri) berbincang dengan penumpang di kelas ekonomi.
Pada Sebuah Kapal: Tiket, Pulang, dan Keakraban (1)
Di atas KM Lawit yang berlayar dari Kumai ke Surabaya, ada yang berjumpa kawan lama, ada yang lega mendapat matras, ada pula yang telah tiga kali Lebaran tak bertemu anak.
DIAN WAHYU PRATAMA, Kumai
---
”REUNI” itu sungguh di luar dugaan Sholikin. Di atas kapal, di pelabuhan yang ribuan kilometer jauhnya dari kampung halamannya di Lumajang, Jawa Timur, dia akan bertemu dengan sahabat lamanya: Bagus.
”Sudah dua tahun kami nggak ketemu,” kata Sholikin kepada Jawa Pos saat KM Lawit yang kami tumpangi telah meninggalkan Pelabuhan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Senin (17/4) pagi lalu.
Nh. Dini menuturkan liku-liku kehidupan dan rumah tangga di novelnya, Pada Sebuah Kapal. Tentang Sri yang kehilangan Saputro, tunangannya, yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Tentang pernikahannya yang tak bahagia dengan Charles Vincent. Juga tentang kemesraan dan kelembutan yang dia temukan pada diri Michael Dubanton, komandan kapal yang telah beristri dan mempunyai dua orang anak.
Pada sebuah kapal Pelni, KM Lawit, dengan rute Kumai–Surabaya yang membawa orang-orang yang hendak pulang ke kampung halaman, ukiran cerita juga tak kalah beragamnya. Bertemu secara mengejutkan dengan kawan lama hanyalah salah satunya.
Ada, misalnya, kisah tentang Irawati yang telah tiga kali Lebaran tak bisa pulang ke kampung halamannya di Bondowoso, Jawa Timur. Jadilah membawa seabrek oleh-oleh adalah rupa kegembiraannya karena akhirnya bisa mudik di Lebaran kali ini. ”Udah siap baju Lebaran dan amplang,” kata perempuan yang bekerja sebagai buruh perkebunan karet di Kelampai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, itu.
Irawati sangat beruntung bisa mendapatkan tiket mudik saat membeli H-14 hari keberangkatan. Meski tiket yang didapat hanya non-seat (tanpa tempat duduk). Beruntungnya, saat naik kapal, dia bisa memperoleh pinjaman matras gratis dari petugas untuk alas tidur di lantai. Hanya tinggal menukarkan dengan jaminan kartu tanda penduduk (KTP).
Idris awalnya tak seberuntung Ira. Tiket kapal dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, yang dia buru sejak akhir Maret gagal didapat pria asal Klaten, Jawa Tengah, tersebut. Meski dia sudah mencarinya ke website, kantor cabang, hingga agen.
Yang tersisa hanya tiket dari Kumai ke Surabaya. Demi mengakhiri status sebagai ”Bang Toyib” yang telah enam Lebaran tak pulang, dibelilah tiket tersebut. Juga, demi kedua anaknya. ”Anak-anak senang kalau naik kapal. Bisa melihat air dari dekat,” kata Idris.
Mayoritas penumpang KM Lawit dalam perjalanan Senin lalu itu berasal dari Jawa Timur. Tapi, ada pula yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang sengaja transit di Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan ke kampung halaman.
Rata-rata para penumpang bekerja sebagai buruh sawit, karet, hingga kayu di wilayah Kalimantan Tengah sampai Kalimantan Barat. Kebanyakan tak saling mengenal satu sama lain, tentu saja.
Tapi, sebagaimana Sri yang jadi dekat dengan Dubanton, perjalanan di kapal pun mendekatkan sesama penumpang. Mereka jadi saudara seperjalanan sepenanggungan selama 26 jam pelayaran dari Pelabuhan Kumai ke Pelabuhan Tanjung Perak itu.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
