
ILUSTRASI RAMADAN: Dimas Pradipta/JawaPos.com
JawaPos.com - Saat ini umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Namun, kebiasaan untuk bergosip dengan orang lain di media sosial kadang terlupakan. Lalu, bagaimana hukumnya ngegibah di grup WhatsApp di siang hari saat puasa?
Seperti diberitakan Radar Bromo (Jawa Pos Group), gibah adalah menyebutkan keburukan atau aib orang lain. Seandainya ia mendengarkan atau mengetahui dia merasa tersinggung. Walaupun itu sebuah kenyataan, misalkan ada orang yang berkulit hitam kemudian kita rasani dengan si hitam. Taisurul kholaq bab ghibah.
Dalam hal ini apapun medianya selama ada perbincangan tentang keburukan atau aib orang lain dan dia tersinggung ketika mendengarnya, maka sudah termasuk kategori mengghibah. Berbeda ketika berbincang tetang orang lain dalam hal kebaikannya maka tidak termasuk gibah.
Gibah di era modern mempunyai fasilitas yang super canggih. Kita bisa ghibah di manapun dan kapanpun, bisa lewat facebook, instagram, bahkan yang lebih populer dengan grup WhatsApp ini adalah dosa yang terkoordinir yang mungkin saat ini kita anggap enteng dan tidak merasa dosa.
Alangkah patutnya kita menelaah kembali mengenai ayat-ayat Alquran atau hadist-hadist nabi yang mengancam bagi orang-orang yang gemar mengghibah di antaranya. Orang yang mengghibah diandaikan memakan daging saudaranya di surat al hujarat ayat 12
“Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya,” (Surat Al-Hujurat ayat 12).
“’Ghibah itu lebih berat dari zina.’”Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,’” (HR At-Thabrani).
Gibah di bulan Ramadan memang tidak membatalkan puasa. Namun perbuatan tersebut bisa berakibat dicabutnya pahala puasa itu sendiri.
Terdapat beberapa cara untuk menghindari ghibah di dunia online, di antaranya sebagai berikut. Pertama, memperbanyak ilmu agama, dengan mengikuti kajian, membaca Alquran sehingga waktu kita lebih banyak untuk kebaikan. Kedua, diam atau tidak menanggapi terhadap komentar2 yang menjerumus ke ghibah. Salah satu cara menghindari berghibah yaitu diam atau tidak berkomentar. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).
Ketiga, menasihati pelaku yang membagikan (share, Red) atau mengajak ghibah untuk menyudahinya. “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, ubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” (HR Muslim 70).
Mudah-mudahan, berkat uraian ini, kita semakin waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus amal kita, termasuk perbuatan ghibah. Wallahu a’lam bissowab.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
