Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 13 Mei 2021 | 23.14 WIB

Memaknai Puasa dan Lebaran Menurut Rektor UINSA Masdar Hilmy

Rektor UINSA Masdar Hilmy. Uinsasby.com - Image

Rektor UINSA Masdar Hilmy. Uinsasby.com

JawaPos.com–Setelah berpuasa selama satu bulan, hari raya Idul Fitri atau hari kemenangan tiba. 1 Syawal 1442 Hijriah jatuh pada 13 Mei. Apa sebenarnya makna berpuasa bagi umat Islam dan apa hikmah Idul Fitri atau hari kemenangan itu menurut Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Masdar Hilmy?

”Ramadan merupakan media bagi umat Islam untuk mengedukasi diri supaya menjadi pribadi yang lebih baik. Karena manusia cenderung selalu bergerak didasari hawa nafsu. Sehingga, puasa menjadi medan supaya manusia tidak berjalan secara liar tanpa kendali spiritualitas,” ujar Masdar Hilmy.

Menurut dia, jati diri manusia terdiri atas dua aspek. Yakni aspek jasmani dan rohani. Puasa adalah bentuk latihan agar manusia tidak selalu digerakkan aspek jasmani.

”Ini mengendalikan supaya manusia mempunyai batasan. Tidak makan dan minum berlebihan, juga tidak berhubungan badan pada siang hari. Sehingga puasa ini untuk mengekang hal tersebut,” tutur Masdar Hilmy.

Dia menjelaskan, puasa juga merupakan ketakwaan dalam melaksanakan anjuran perintah rasul. Sebab, rasul mengajarkan komposisi perut manusia mempunyai batasan. Antara lain, untuk makan, minum, dan bernapas. Masing-masing memiliki porsi sepertiga. Sehingga, jika ketiganya terpenuhi sesuai kebutuhan, dalam tubuh terdapat keseimbangan.

Dia juga menyarankan, agar perayaan Idul Fitri tidak perlu dilakukan berlebihan. Pada masa pandemi, masyarakat bisa bersilaturahmi secara online.

”Meskipun makna Idul Fitri adalah hari kemenangan, bukan berarti kita bebas begitu saja. Umat Islam telah berhasil melampaui latihan spiritual ketakwaan selama sebulan. Kalau bisa setelah bulan puasa tetap dipertahankan aspek takwa dan ibadahnya,” kata Masdar Hilmy, yang kelahiran Lasem Rembang itu.

Pada umumnya, lanjut dia, ketika Lebaran tiba, masyarakat Indonesia selalu mudik atau pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi. Namun, saat ini pemerintah memberlakukan kebijakan larangan mudik sebagai antisipasi penyebaran Covid-19.

Masdar Hilmy menyatakan, silaturahmi secara virtual sama sekali tidak mengurangi makna dari silaturahmi itu sendiri. ”Sebenarnya meskipun silaturahmi dilakukan secara online, tidak akan mengurangi keafdhalannya. Karena memang saat ini negara kita tengah dilanda Covid-19. Kita tidak bisa menyamakan seperti pada umumnya saat sebelum adanya virus korona,” ucap Masdar Hilmy.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore