Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 April 2020 | 22.18 WIB

Puasa Kedua dengan Setumpuk Cerita

DI NEGERI ORANG: Olenka Priyadarsani dengan latar Tower Briddge, London. (OLENKA PRIYADARSANI FOR JAWA POS) - Image

DI NEGERI ORANG: Olenka Priyadarsani dengan latar Tower Briddge, London. (OLENKA PRIYADARSANI FOR JAWA POS)

RAMADAN ini adalah bulan puasa kedua kami di Inggris. Hampir sama dengan tahun lalu, kali ini pun jatuh pada musim semi di mana waktu sahur sekitar pukul 4 pagi dan magrib pukul 20.15. Bertambah hari, waktu berbuka makin larut.

Saya dan keluarga tinggal di Crawley, sebuah kota satelit, sekitar 40 km dari London. Walau hanya berpenduduk sekitar 110 ribu orang, kota ini berkembang sangat pesat karena terdapat Bandara London Gatwick, yang merupakan bandara tersibuk kedua di Inggris Raya.

Populasi muslim di kota ini sekitar 11 persen dan kami beruntung karena terdapat empat buah masjid. Ketika pindah dari Malaysia tahun 2018, kami langsung memilih menyewa rumah dekat masjid. Masjid terdekat dari rumah kami hanya berjarak 100 meter. Walau kecil sangat aktif dengan berbagai kegiatan.

Masjid tersebut dikelola komunitas muslim Sri Lanka, tempat suami dan anak laki-laki saya biasa salat berjamaah. Selain itu, ada Islamic Center Crawley yang letaknya 800 meter dari rumah. Itu tempat anak saya biasanya mengaji saat akhir pekan.

Tahun lalu untuk kali pertama kami berpuasa 18 jam lebih. Hari-hari pertama memang berat, tapi setelah itu biasa saja. Tantangannya hanya pada waktu salat Tarawih yang jatuh sangat larut sehingga biasanya sudah mengantuk. Di masjid dekat rumah kami selalu disediakan takjil. Orang-orang menyediakan kurma, buah, jus, dan snack di masjid untuk diambil bebas oleh para jamaah.

Tapi, Covid-19 membuat semuanya berubah saat ini. Pemerintah Inggris telah menerapkan lockdown sejak 23 Maret. Masjid, gereja, toko, serta tempat bisnis yang tidak menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari wajib tutup. Orang tidak boleh berkumpul lebih dari dua orang dengan yang bukan orang serumah. Semua supermarket dan toko yang buka menerapkan pembatasan pengunjung.

Pandemi ini memang mengubah hidup semua orang. Suami yang bekerja di bidang migas sekarang kerjanya dari rumah. Anak-anak pun sekolah di rumah. Sukanya, lumayan menyita waktu, jadi waktu puasa yang lama tidak terasa. Anak saya yang besar (usia 8 tahun) puasa mengikuti jam Indonesia, jadi dia akan buka saat asar.

Tantangannya ada pada sekolah dari rumah yang tetap mewajibkan tatap muka secara daring. Tiap pelajaran akan ada live session dengan guru. Kalau setelah pukul 12, muka anak saya sudah terlihat lemas. Untungnya, sore biasanya mata pelajaran yang tidak susah seperti kesenian, musik, atau bahasa Prancis dan Spanyol.

Meski lockdown diterapkan hingga awal Mei, ada kemungkinan tetap belum diizinkan berkumpul untuk salat Idul Fitri. Semua orang harus bisa menerima itu demi kepentingan bersama. Apalagi, saat ini Inggris menjadi salah satu negara Eropa yang paling parah terdampak Covid-19.

Kalau dipikir-pikir, kami masih cukup beruntung. Masih punya tempat berteduh dan uang untuk membeli makan. Akses terhadap makanan halal juga sangat mudah. Di pertokoan dekat rumah ada sebuah toko daging halal yang menjual berbagai produk makanan halal pula. Juga ada restoran yang masih melayani penjualan untuk dibawa pulang di dekat rumah. Semua menunya halal.

Jadi, walau tidak punya privilese terhadap layanan antar makanan seperti di Indonesia, kalau malas memasak, kami masih mudah membeli makanan. Tinggal jalan kaki. Semua toko menerapkan social distancing dan membatasi pembeli di dalam.

Puasa kali ini, menurut saya, melatih betul kesabaran dan keikhlasan. Sabar dalam arti yang sebenarnya. Berjibaku antara anak-anak yang belajar daring dan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya. Secara ekonomi juga bikin ketir-ketir semua orang.

Tapi, seperti kata-kata bijak, makin menantang, makin besar juga pahala. Juga makin mengesankan. Mungkin 30 tahun lagi saya akan bisa bercerita kepada cucu-cucu, ”Dulu, waktu bapak-ibumu masih kecil, kami tinggal di Inggris, puasa lebih dari 18 jam, dan tidak boleh keluar rumah karena sedang ada wabah....”

Meskipun serbasulit, bisa juga diambil hikmahnya. Misalnya saat salat Tarawih bersama di rumah. Kebetulan isya pukul 21.15, jadi anak tidak ikut salat Tarawih karena sudah ketiduran. Saya dan suami biasa berunding mau berapa rakaat. Akhirnya sepakat delapan rakaat dan salat Witir. Karena itu saja bisa selesai pukul 22.30. Padahal, makmumnya sudah meminta surah-surah pendek saja. Walau tidak pernah dikabulkan imam. Hiks.

*) Mantan jurnalis, tinggal di Inggris

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=NDOZMPcukn4

 

https://www.youtube.com/watch?v=Qp5QYWDuYsQ

 

https://www.youtube.com/watch?v=v2U7yW4jVbw

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore