Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Mei 2017 | 22.13 WIB

Lampu Colok Tradisi yang Hampir Punah di Malam Ramadan

Anak-anak bermain dekat lampu colok Asmaul Husna. - Image

Anak-anak bermain dekat lampu colok Asmaul Husna.

JawaPos.com - Setiap daerah, baik pedesaan ataupun perkotaan ada banyak tradisi selama bulan Ramadan yang ditampilkan masyarakat. Tradisi itu tak lain agar bulan suci ini terasa semarak.


Di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru misalnya, masyarakat setempat selalu membuat lampu colok dan dinyalakan setiap malam Ramadan.


Kendati berada di daerah kota secara administrasi, namun sosial masyarakatnya masih terlihat seperti desa. Apalagi Limbungan, berada di seberang Sungai Siak dari wilayah perkotaan. Namun suasananya begitu meriah.


Belasan muda-mudi tampak asik memasangi lampu colok di sepanjang Jalan Sembilang, Kelurahan Limbungan, Senin (29/5). Tonggak lampu colok yang terbuat dari kayu sebelumnya telah tertanam rapi. Dipasang berdekatan dengan jarak sekitar 2 meter di kedua sisi jalan. Jumlahnya mencapai ratusan. Dari sebagian Jalan Sembilang menuju Masjid Istiqomah. Masjid ini setiap malamnya selalu dipadati oleh umat muslim untuk menunaikan ibadah tarawih.


Petang itu mulai terasa gelap. Lampu colok pun dihidupkan. Kotak yang tertonggok itu kemudian memancarkan cahaya berwarna. Lafaz Asmaul Husna tampak hidup menyala-nyala. Suasanapun seketika berubah. Serasa sedang tidak berada di Kota Metropolitan. Sangat asri.


Usai berbuka puasa anak-anak kecil keluar dari rumahnya. Ada yang membawa mukenah. Ada yang mebawa sarung. Mereka berlarian mengitari lampu colok. Ada juga yang bermain kembang api di sekitar sana.


Para orang tua berjalan menuju masjid untuk menunaikan ibadah salat mahrib. Hingga menjelang Isya suasana semakin ramai oleh hilir mudik pejalan kaki. "Kami sebagai pemuda memiliki kewajiban untuk mempertahankan tradisi ini," ujar Dodi Alfian, salah seorang pemuda setempat kepada Riau Pos (Jawa Pos Group).


Dijelaskannya, sebagai bagian dari penyemarak Ramadan kehadiran lampu colok sangat ditunggu oleh masyarakat setempat. Karena sejak dahulu, budaya lampu colok sudah terlaksana. Namun dengan bentuk dan variasi berbeda.


Lampu colok dibuat secara bergotong royong oleh para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Bom Lama Rumbai. Ikatan pemuda itu telah mempersiapkan segala bahan yang dibutuhkan.


Pada tahun ini ada sedikit inovasi dari para pemuda. Pada tahun sebelumnya lampo colok berupa obor yang ditanam di pinggir jalan, tapi kali ini lebih mirip lampion. Di lampion itu terdapat lafaz Asmaul Husna. "Pengerjaannya tidak memakan waktu lama. Karena dikerjakan bersama-sama," sebutnya.


Setelah selesai, tonggak-tonggak lampu colok dipasang. Saat Ramadan masuk semuanya sudah terkondisikan. Namun pada awal pemasangan lampu kerap padam karena terbawa angin dari kendaraan yang melintas.


Akan tetapi pihak pemuda meminta seluruh kendaraan yang melintas di dekat lampu colok agar memperlambat lajunya agar api di lampu colok tidak padam.


Suasana meriah itu semakin terlihat hingga tengah malam. Anak-anak pun terlihat riang gembira di sekitar lampu itu. Uwam salah seorang warga setempat menuturkan, budaya lampu colok memang tidak sepenuhnya digalakan oleh warga pada saat Ramadan. Hanya warga-warga tertentu saja.


Dia pun membandingkan dengan suasana Ramadan di wilayah perkotaan. Kalau di kota pada malam hari terasa monoton tanpa ada kegiatan yang menyemarakan Ramadan. "Yang membuat berbeda pasti suasananya. Kalau suasananya seperti ini ya terasa semakin kental Ramadan. Beda dengan di kota-kota. Kita pun senang melihat yang indah-indah seperti ini,"imbuhnya. (nda/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore