Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Mei 2017 | 20.01 WIB

Pembuatan Kapal Libatkan 30 Ribu Pekerja

Patung Laksamana Cheng Ho dengan jubah berkibar dengan latar belakang apartemen. Foto ini diambil di dalam Museum Site of The Treasure Shipyard Area di kota Nanjing. - Image

Patung Laksamana Cheng Ho dengan jubah berkibar dengan latar belakang apartemen. Foto ini diambil di dalam Museum Site of The Treasure Shipyard Area di kota Nanjing.

KETIKA sibuk dengan pembangunan Kota Terlarang, Kaisar Ketiga Dinasti Ming Zhu Di juga memerintah sahabat sekaligus tangan kanannya, Cheng Ho, untuk memperbesar kapasitas galangan kapal di Longjiang, Nanjing. Produksinya mencapai ribuan kapal. Rekor jumlah armada Cheng Ho baru pecah oleh jumlah armada laut pasukan sekutu pada Perang Dunia I. 

Begitu mendapat perintah, Cheng Ho lalu memperluas galangan kapal itu. Mencakup beberapa mil ke pinggir Sungai Yangtze. "Zhu Di bertujuan membangun kerajaan maritim besar," kata Yang Liyun, staf pengelola Taman Nasional Cheng Ho. Sesuatu yang sudah dicoba dalam dua dinasti sebelumnya, tapi nihil catatannya. 

Sejak abad ke-9 Tiongkok memang mengembangkan armada kapalnya. Tujuannya tentu saja penguasaan rute perdagangan laut di kawasan tersebut. Ketika berkuasa, Zhu Di sebenarnya sudah mewarisi banyak kapal. Namun, dalam waktu 20 tahun, dia berambisi meningkatkan jumlah kapal hingga tiga kali lipatnya. Total, dalam kurun waktu itu, Cheng Ho memproduksi 1.681 kapal baru. 

Banyak di antaranya adalah kapal galleon atau kapal harta. Dengan sembilan tiang. Untuk memproduksi kapal sebanyak itu, Cheng Ho menyerap 30 ribu buruh pembuat kapal dari seluruh Tiongkok. Selain itu, Cheng Ho meminta mereka membuat tambahan 1.350 kapal patroli yang lebih kecil-kecil untuk menjaga pos perbatasan laut di seantero Tiongkok. Itu membuat galangan kapal Longjiang menjadi galangan kapal tersibuk di dunia. 

Alhasil, pada abad ke-15, Tiongkok menjadi negara superpower di laut. Tak ada satu pun negara di muka bumi ini yang bisa menyaingi postur angkatan laut Tiongkok pada zaman itu. "Banyak ahli sejarah mengatakan bahwa baru pada Perang Dunia I rekor iring-iringan armada kapal laut Cheng Ho dipecahkan sekutu," ungkap Yang. Itu pun terpecahkan oleh armada gabungan beberapa negara.

Ekses dari pembangunan besar-besaran tersebut, sempat memicu pemberontakan pertama pada Kaisar Zhu Di. Itu terjadi gara-gara ratusan ribu hektare hutan di kawasan Annam (sekarang bagian selatan Vietnam) digunduli dan diambil kayunya. (*/c9/nw) 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore