Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Mei 2017 | 20.35 WIB

Kampung Cheng Ho Kini Jadi Taman Nasional

Patung Cheng Ho setinggi 15 meter di gerbang Zheng He Gongyuan Park berdiri gagah menghadap Kota Kunyang, Provinsi Yunnan, Tiongkok. Di tempat ini Laksamana Cheng Ho dilahirkan. - Image

Patung Cheng Ho setinggi 15 meter di gerbang Zheng He Gongyuan Park berdiri gagah menghadap Kota Kunyang, Provinsi Yunnan, Tiongkok. Di tempat ini Laksamana Cheng Ho dilahirkan.

JawaPos.com Udara dingin langsung menghajar tulang begitu keluar dari mobil. Suhu di layar ponsel menunjukkan 18 derajat Celsius ketika kami berada tepat di depan gerbang Taman Nasional Cheng Ho (Zheng He) di Gunung Yuesan, Kunyang, Provinsi Yunnan, Tiongkok. 

Cukup menguras fisik untuk mencapai puncak Zheng He Gongyuan Park (Taman Nasional Cheng Ho). Harus menapaki sekitar 150 anak tangga yang sangat curam Meski capek, setidaknya membantu juga untuk melawan hawa dingin. 

Zheng He dianggap orang besar di Tiongkok. Setidaknya, hal itu terlihat dari adanya empat taman nasional untuk mengenang laksamana terbesar tersebut. Yakni, yang pertama di Kunyang, lalu di Nanjing, berikutnya di Taicang, dan yang terakhir di Chang Le. Yang utama adalah dua taman yang di depan, yakni di Kunyang dan Nanjing.

Kunyang merupakan tempat kelahiran dan bekas rumah Cheng Ho saat kecil. Juga, ada makam ayahnya, Mi Lijin, yang kemudian dikenal sebagai Ma Hazhi (karena sudah berhaji, Hazhi adalah haji). Sedangkan di Nanjing adalah makam Cheng Ho. Memang, ketika meninggal dalam perjalanan pulang dari ekspedisi ketujuh, jasad Cheng Ho dilarung di perairan India. Yang ada di Nanjing itu adalah pakaian dan topinya saja.

Tradisi Tiongkok memang seperti itu. Jika jasadnya tidak ada, yang dimakamkan adalah barang kesayangan atau bajunya atau hal-hal yang berkaitan dengan yang bersangkutan. 

---

Awalnya kami membayangkan bahwa desa kelahiran Cheng Ho sama dengan desa-desa lain. Masih banyak penduduknya, dengan rumah yang berdempetan. Ternyata, situasinya sudah berubah. Tanah tempat Cheng Ho dulu tinggal masih ada. Namun, rumah aslinya sudah tidak ada. Demikian pula rumah para tetangganya.

Lokasi di bekas rumah Cheng Ho dulu kini berubah menjadi dua bangunan. Yang satu bertingkat. Bangunan pertama berisi memorabilia ekspedisi laksamana besar tersebut. "Tiap hari selalu ada anak-anak sekolah (setingkat SD dan SMP) yang datang ke sini," kata Yang Liyun, staf Taman Nasional Cheng Ho, yang menemani kami berkeliling. 

Menurut Yang, bangunan asli rumah Cheng Ho sudah tidak ada. Begitu pula rumah para tetangganya. "Semua dipugar untuk kepentingan taman (Taman Nasional Zheng He, Red) ini," ungkap perempuan berkacamata itu. 

Di bangunan bertingkat, benda-benda yang dipamerkan agak berbeda. Yakni, kostum laksamana yang dikenakan para aktor dalam sinetron Zheng He yang diputar televisi Tiongkok beberapa tahun lalu. Sinetron tersebut cukup populer di Tiongkok. 

Selain itu, ada beberapa foto keluarga besar keturunan keluarga (saudara-saudara) Cheng Ho. Menurut Yang, ada tiga tempat yang menjadi pertemuan para keluarga Cheng Ho. Yakni, Chiang Mai, Thailand; Nanjing; dan Yuxi. "Jika ingin bertemu, sebaiknya di Nanjing. Di sana mereka yang paling aktif," terangnya. 

Ada juga beberapa potongan kayu yang disebut-sebut sebagai mainan Cheng Ho kecil. "Dulu sewaktu kecil, Zheng He suka sekali bermain di Danau Dianchi (baca: Tienje). Dia sering buat rakit, lalu berkeliling danau bersama saudara-saudaranya," ungkap Yang. 

Selain bekas rumah Cheng Ho, situs penting lainnya adalah makam ayahanda Cheng Ho, Mi Lijin alias Ma Hazhi. Di makam itu tertulis sejarah singkat mengenai Ma Hazhi. "Kakek dan ayah Zheng He adalah pejabat di Dinasti Yuan. Kakeknya adalah pejabat cukup tinggi saat itu," kata Yang.

Menjadi haji bukan perkara gampang di Tiongkok saat itu. Harus kaya dan mempunyai pengaruh. Dua hal yang hanya bisa dicapai seorang pejabat. 

Menurut Yang, memang tidak terlalu banyak cerita atau peninggalan tentang Cheng Ho secara pribadi di Taman Nasional Cheng Ho di Kunyang. "Sebab, Zheng He sudah pindah ke Nanjing, menjadi kasim Pangeran Zhu Di sejak umur 11 tahun. Tidak banyak kenangannya di sini," kata Yang. Menurut dia, Taman Nasional Cheng Ho yang paling lengkap berada di Nanjing. 

Menempati lahan 16,6 kilometer persegi di Gunung Yuesan, Taman Nasional Zheng He tak ubahnya ruang terbuka hijau raksasa. Bangunan utama hanya tiga. Yakni, bekas rumah Cheng Ho, makam Ma Hazhi, dan Sanpao Building. Bangunan terakhir itu merupakan replika kapal Laksamana Cheng Ho dengan skala sepertiga kapal aslinya. 

Di dalamnya ada lukisan muhibah bahari Cheng Ho ke sejumlah negara seperti Arab dan Tanzania. Ada pula lukisan kedatangan pangeran Malaka sebagai duta besar ke Kaisar Zhu Di.

Taman Nasional Cheng Ho mempunyai patung raksasa laksamana tersebut setinggi 15 meter menghadap kota. Dipandang dari atas, tampak seperti Cheng Ho menatap Kunyang dan kawasan sekitar. Selain itu, ada sejumlah ruang lapang dengan lambang perhitungan astronomi kuno atau shio. 

"Setiap akhir pekan, jumlah pengunjung rata-rata 600 orang. Hari biasa sekitar 200 orang," kata Yang Liyun. (ano/c5/nw) 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore