Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Juni 2017, 18.39 WIB

Hadiahkan Cakra Donya, si Lonceng Perang

HENDRI ABIK/METRO ACEH/JPG HADIAH CHENG HO: Lonceng Cakra Donya tergantung di halaman depan sebelah kiri Museum Aceh. - Image

HENDRI ABIK/METRO ACEH/JPG HADIAH CHENG HO: Lonceng Cakra Donya tergantung di halaman depan sebelah kiri Museum Aceh.

Kesultanan Pasai di Aceh menjadi tempat persiapan armada Cheng Ho sebelum mengarungi Samudra Hindia menuju negara-negara di belahan barat. Karena itu, Tiongkok berkepentingan menjalin hubungan baik dengan kesultanan pertama di Nusantara tersebut. 

---

BANYAK kisah tentang kedatangan armada Laksamana Cheng Ho di Kesultanan Samudra Pasai. Namun sayang, tak banyak catatan yang tertinggal untuk mengisahkan persinggahan armada terbesar pada zamannya tersebut.

Kesultanan Samudra Pasai terletak di pantai utara Aceh, dekat Lhokseumawe. Pada abad ke-13 hingga ke-16, tempat tersebut menjadi jujukan para pedagang dari Timur Tengah, Gujarat (India), hingga Tiongkok. Lokasinya sangat strategis bagi perjalanan laut dari Tiongkok menuju negara-negara di belahan barat seperti India dan kawasan Arab. Begitu pula sebaliknya. Biasanya para pedagang, baik dari Tiongkok maupun India dan Arab, transit di tempat itu sebelum melanjutkan perjananan. 

Di tempat tersebut, para pedagang memperjualbelikan rempah-rempah dan sutra. Tak ketinggalan, para pedagang yang sebagian besar muslim ikut menyebarkan agama Islam.

Armada Cheng Ho juga menganggap Samudra Pasai sangat strategis. Kesultanan itu menjadi tempat persinggahan setelah mengunjungi Jawa. Rute tetap Cheng Ho setiap melakukan ekspedisi adalah Suzhou (Tiongkok), Champa (Vietnam), Ayuttaya (Thailand), Majapahit (Jawa), Samudra Pasai (Aceh), baru kemudian bertolak ke kawasan barat hingga Afrika. 

Saking pentingnya posisi Samudra Pasai, sampai-sampai Cheng Ho pernah membantu menumpas pemberontakan yang terjadi di kesultanan pertama di Nusantara tersebut. Pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin (1420-1428), kerajaan diserang pemberontak yang dipimpin Iskandar. Sultan kalah. 

Kaisar Zhu Di di Beijing pun tidak senang mendengar berita itu. Sebab, perubahan pemerintahan akan mengganggu hubungan baik yang dibangun sejak lama. Karena itu, dia memerintah Cheng Ho menumpas pemberontakan tersebut. Iskandar berhasil dikalahkan dan dihukum mati di Beijing.

Hubungan baik Kesultanan Samudra Pasai dengan kekaisaran Tiongkok ditandai pemberian hadiah lonceng raksasa. Namanya lonceng Cakra Donya. Tingginya 1,25 meter dengan diameter 1 meter. Lonceng buatan 1409 itu diberikan sebagai hadiah kepada sultan Samudra Pasai pada 1414.

"Pemberian lonceng itu dilakukan dalam rangka mengikat hubungan persahabatan antara dua kerajaan di negara yang ber­beda," jelas Djamal Sahrif, sejarawan Aceh yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).

Di bagian atas lonceng itu terdapat tulisan dengan aksara Mandarin dan Arab. Aksara Mandarin yang tertulis adalah Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke-5). "Untuk tulisan Arab, sudah tidak terbaca lagi karena dimakan usia," ujar Djamal.

Saat Kesultanan Samudra Pasai menjadi bawahan Kesultanan Aceh pada abad ke-16, lonceng Cakra Donya dibawa ke Banda Aceh oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Bahkan, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng tersebut pernah dijadikan semacam pusaka kesultanan. Dipasang di kapal perang yang juga diberi nama Cakra Donya. Dengan lonceng itu, komando perang dikumandangkan.

Kapal dan lonceng Cakra Donya pernah digunakan Sultan Iskandar Muda untuk menyerang Portugis di Selat Malaka. Dengan membawa 500 kapal perang dan 60 ribu tentara laut, sultan ingin menghentikan dominasi petualang Eropa di wilayah yang dulu dibangun Raja Parameswara dan Cheng Ho tersebut. 

Dengan komando dari Cakra Donya, pasukan Aceh bertempur dengan gigih. Karena mampu membangkitkan semangat tempur itulah, Cakra Donya sempat dijuluki pasukan Portugis sebagai Espanto del Mundo yang berarti teror dunia. 

Pada akhirnya, pasukan Aceh memang kalah dari Portugis. Namun, pada waktu yang hampir bersamaan dan dengan armada yang sama, Aceh mampu menaklukkan Pahang dan Kedah, Malaysia. (*/c5/nw) 



Gubernur Belanda pun Percaya Keramat

LONCENG Cakra Donya hingga kini bisa dijumpai di Museum Aceh. Digantung dengan rantai di bawah kubah yang dibuat khusus di halaman depan sebelah kiri museum. Sayang, karena dimakan usia dan diletakkan di tempat terbuka, ukiran tulisan Arab dan Mandarin di bagian luar lonceng mulai kabur dan berkarat.

"Orang Aceh dulu menyebutnya genta karena suaranya bergetar ke seluruh dunia," ujar sejarawan Aceh Djamal Sahrif.

Pada prasasti yang diletakkan dekat lonceng, tertera tulisan: Penanda Harmonisasi Kesultanan Pasai dengan Dinasti Ming. Abad ke-15, Laksamana Cheng Ho menyerahkan Cakra Donya kepada Sultan Pasai pada saat satu ekspedisi ke Aceh.

Nama Cakra Donya diambil dari nama kapal perang Sultan Iskandar Muda yang di atasnya tergantung lonceng tersebut. Cakra berarti kabar dan donya berarti dunia. Cakra Donya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kabar kepada dunia, termasuk isyarat perang, pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. 

Setelah tidak lagi dipasang di kapal perang, lonceng raksasa itu diletakkan di dekat Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di kompleks istana sultan. Sejak 1915, Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan dibikinkan kubah khusus. Setiap pengunjung museum akan bisa langsung menyaksikannya.

Berdasar cacatan dari buku G.L. Tichelman yang berjudul Cakra Donya, De Indische Gids I (1939), lonceng itu dulu pernah dianggap sebagai benda keramat oleh sebagian orang Aceh. Menurut buku itu, hingga akhir 1915, lonceng tersebut masih digantung di pohon gloendong (pohon kuda-kuda) di sebelah timur masjid. Anak gentanya telah hilang dan sejak 1915 tidak ada lagi seorang pun yang pernah mendengar suaranya.

Pada 2 Desember 1915, pada masa Gubernur Belanda H.N.A Swart, ada perintah untuk menurunkan lonceng dari pohon gloendong karena dikhawatirkan pohon tersebut patah dan lonceng bisa rusak. Karena itu, lonceng pun diletakkan di tanah. Lonceng itu diturunkan orang-orang Tiongkok karena orang Aceh menganggap lonceng tersebut berhantu.

Menurut cerita, orang Tiongkok yang menurunkan lonceng tersebut meminum arak lebih dahulu sampai mabuk, baru kemudian berani menurunkannya. Setelah lonceng diturunkan, Banda Aceh dilanda banjir besar. 

Pada 13 Desember 1915, datanglah seorang utusan menghadap Gubernur Swart. Dia memberi tahu bahwa banjir tersebut terjadi karena peletakan lonceng yang tidak pada tempatnya. Atas perintah Gubernur Swart, lonceng tersebut kemudian digantung di Museum Aceh. Banjir pun reda pada saat itu.

"Tetapi, tahun berikutnya, banjir datang lagi. Maka sekali lagi utusan tersebut datang dan mengatakan bahwa peletakannya masih kurang tepat. Seharusnya lonceng tersebut diletakkan terpisah dan tertutup. Karena itu, hingga seka­rang letaknya terpisah (dari museum, Red)," jelas Djamal.

Swart pun menyetujui dan membuat bangunan khusus untuk menggantung lonceng itu. Pada 1939, lonceng yang telah tua tersebut digantung dengan sebuah rantai di dalam sebuah kubah dari kayu di depan Museum Aceh. (*/c5/nw) 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore