
SEDERHANA: Menu buka puasa di Ponpes Al Fithrah hanya nasi putih, tahu, tempe, dan kerupuk.
JawaPos.com – Ada banyak cara untuk memperkuat keimanan. Salah satunya seperti yang diajarkan Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fithrah. Pihak ponpes membiasakan para santrinya berpuasa mutih.
Tapi, puasa mutih yang diterapkan ponpes tersebut berbeda dengan adat kejawen. Puasa mutih yang dilakukan para santri sebenarnya ajakan untuk menjadi vegetarian. Saat berbuka, para santri biasa mendapat menu sederhana yang terdiri atas nasi putih, sayur, serta lauk tahu, tempe, dan kerupuk. Ya, selama Ramadan, 2.255 santri di Ponpes Al Fithrah hanya mengenal tiga lauk itu. ”Puasa mutih di sini adalah tarak dari makanan hewani,” terang Nashiruddin, pengajar di Ponpes Al Fithrah.
Makan mutih dilakukan sejak sepuluh hari sebelum Ramadan. Kebiasaan itu berlangsung hingga puasa Ramadan berakhir. Sepuluh hari sebelum Ramadan dipilih dengan tujuan membiasakan tubuh terlepas dari unsur hewani. ”Untuk laki-laki, dimulai 21 Syakban sampai berakhir Ramadan. Untuk perempuan, 1 Ramadan hingga berakhir Ramadan,” terang Nashiruddin.
Namun, puasa mutih tidak dijalankan secara penuh begitu saja. Khusus Jumat, para santri boleh makan makanan yang mengandung unsur hewani. ”Namun, itu ada konsekuensinya. Santri harus membaca salawat 3.000 kali. Kalau hari biasa, mereka cuma baca 300 kali,” terangnya. Pada Jumat, makanan akan ditambah dengan lauk yang mengandung unsur hewani. ”Biasanya, kami tambah ikan lele sama bandeng. Kami sampai habis 100 kilogram lele,” ujar penanggungjawab dapur pesantren Sualim.
Tradisi puasa mutih ala Ponpes Al Fithrah juga menular di kalangan warga sekitar. Buktinya, beberapa warung di depan pesantren juga menyediakan menu mutih. Bahkan, salah satu warung memajang tanda khusus bertulisan ”sedia menu mutih”.
Menurut Nashiruddin, puasa mutih bertujuan mengendalikan nafsu dan meningkatkan ibadah. Salah satu inti mutih adalah mengurangi makan. Sebab, salah satu unsur nafsu adalah makanan. ”Nafsu itu ujung-ujungnya makanan. Kalau makan nggak diatur, ya sudah, berarti setan yang ngatur,” terangnya.
Selain itu, dengan puasa mutih, santri diajari untuk menyeimbangkan urusan rohani dan jasmani. ”Rohani kita kendalikan lewat salawat dan jasmani kita kendalikan lewat cara makan,” terang Nashiruddin. Memang biasanya saat berbuka puasa ada orang yang kalap. Mereka cenderung didorong nafsu makan yang besar. Nafsu makan tersebut akhirnya membawa diri untuk malas beribadah.
Tradisi mutih sudah lama berjalan, bahkan sebelum pondok berdiri. Para santri pun merasakan manfaat puasa mutih. Salah satunya Ubaidillah. ”Jadi lebih bersemangat belajarnya,” terangnya.
Hal yang sama dirasakan jamaah dari luar ponpes. Mengikuti tradisi mutih membuat ibadahnya pada bulan puasa menjadi lebih ringan. ”Eco, ibadah enteng (sangat bagus, ibadah jadi semakin ringan, Red). Makan cukup seadanya saja, tidak perlu memikirkan lauk yang macam-macam,” terang Muhammad Munir, salah seorang jamaah. (gal/c11/oni)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
