
Ilustrasi
JawaPos.com – Lelakon tokoh asal Pulau Mengare melahirkan cerita menarik. Keunikan, keajaiban, dan kearifan lokal setempat terangkai menjadi sebuah kisah. Hingga kini, cerita-cerita leluhur itu masih membekas dalam ingatan masyarakat setempat.
Salah satu cerita yang masih hidup ialah asal-usul Desa Watuagung, Pulau Mengare. Ada sebuah batu besar dan bersejarah di belakang balai desa setempat. Sekretaris Desa (Sekdes) Watuagung Khuluk mengisahkan, masyarakat setempat meyakini batu besar itu merupakan cikal bakal desa. Kisah tanah Mengare tersebut juga terekam dalam buku Sang Gresik Bercerita karya Yayasan Mata Seger.
Alkisah, cerita Khuluk, legenda Watuagung berawal saat seorang petinggi kerajaan bernama Pangeran Solo kesengsem pada kecantikan Putri Melirang. Dia merupakan salah seorang putri raja. Pangeran Solo ingin menikahinya dan memboyong sang pujaan hati.
”Pangeran lantas meminta izin kepada ibunya,” kata Khuluk. Setelah sowan, sang pangeran mendapat restu dari ibunya. Sebagai bekal perjalanan, dia mendapat pesan khusus. Pangeran didoakan, tapi dipesani untuk tak tidur selama perjalanan.
Namanya sudah jatuh cinta, pangeran menyanggupi. Dia lantas mempersiapkan perahu. Senjata andalannya, besi tawar, diikutsertakan. Dua pengawal sakti menemani. Mereka mengarungi Bengawan Solo yang dulu bernama Bengawan Lawas.
Setelah melewati perjalanan sungai yang melelahkan, pangeran akhirnya bertemu dengan Putri Melirang. Lelaki gagah itu menyampaikan unek-uneknya. Pangeran memberanikan diri. Meski, dia tahu sudah banyak laki-laki yang ditolak sang putri.
Apa yang terjadi? Kepala pangeran pecah serasa ditembak panah. Putri juga menolak cintanya. Gadis ayu itu lari menghindar. Memilih menghilang. ’’Pangeran terus mengejar,’’ sambung Khuluk. Untuk mencari putri yang cantik jelita itu, pangeran mengubah wujudnya menjadi ular besar. Tujuannya, bisa cepat menemukan pujaannya. Namun, jejak Putri Melirang benar-benar hilang.
Ular jelmaan pangeran lantas sampai di Laut Jawa, lebih tepatnya di dekat Madura. Pangeran yang tengah kebingungan merasa lelah. Tak terasa, dia tertidur.
Setelah bangun, Pangeran Solo berniat mencari putri lagi. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Karena frustrasi, dia memilih bertapa dan melingkarkan badannya selama bertahun-tahun. Konon katanya, lokasinya di dekat Pulau Madura.
’’Badan ular, kepala, dan ekornya mengeras menjadi daratan. Itu yang disebut Mengare,’’ papar Khuluk. Kepala ular diyakini berada di Desa Watuagung. Badannya di Tanjungwedoro dan ekornya di Kramat. Tiga desa tersebut sama-sama berada di Mengare.
Ular jelmaan pangeran dipercaya memberikan kemakmuran. Kini, masyarakat Pulau Mengare yang dipisahkan Bengawan Solo hidup makmur dengan hasil pertanian dan perikanan. (hen/c7/roz)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022