
Dokter Spesialis Anestesi dr. Setyadi Suroyo, Sp.An menjelaskan seputar masalah nyeri dan cara mengatasinya.
JawaPos.com - Musim liburan biasanya banyak program khitan atau sunat massal dan gratis yang bisa diikuti anak-anak. Mereka biasanya lebih senang mengikuti program tersebut karena bisa bertemu dengan banyak teman sebayanya untuk menghindari diri dari rasa takut.
Rasa nyeri saat dikhitan biasanya membayangi anak-anak sebelum naik ke meja khitan. Apalagi melihat para dokter yang akan melakukan tindakan membuat anak menjadi takut dan menangis.
Mengatasi hal itu, Dokter Spesialis Anestesi dr. Setyadi Suroyo, Sp.An berusaha memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa nyeri yang dirasakan hanya sementara. Edukasi tersebut harus diberikan perlahan dan jangan membohongi anak.
"Apalagi bius lokal biasanya anak-anak pasti ketakutan. Kami lakukan pendekatan pada anak memberi edukasi bahwa nyeri pas disuntik saja kok. Setelah disuntik akan hilang nyerinya. Dan jangan bohongi anak, jangan dibilang suntikan enggak nyeri nanti anak akan merasa dibohong," katanya dalam bakti sosial bersama PT Waskita Karya (Persero) Tbk di RS Meilia Cibubur, Minggu (9/12).
Dia menegaskan anak tetap akan merasakan nyeri meski saat ini metode khitan semakin canggih. Namun dokter pasti akan memberikan berbagai obat untuk mengurangi rasa nyeri.
"Sekarang ada beberapa suntikan yang sangat kecil untuk sunat enggak terlalu nyeri. Kami bisa tambahkan dengan gel anastetik lokal. Diamkan 1 jam akan mengurangi," ujarnya.
Sementara itu pasca khitan, orang tua tak perlu khawatir jika terjadi pembengkaan dan kemerahan pada penis anak. Karena ini adalah kondisi yang wajar.
Pakar Nyeri dr. Mahdian Nur Nasution SpBS, menegaskan dokter akan memberikan beberapa obat untuk mengatasi masalah ini. Saat penis terkena air, terutama pada metode konvensional yang masih menggunakan dressing untuk penutup luka sirkumsisi.
"Keringkan perban atau ganti perban secara berkala," jelas dr. Mahdian.
Penelitian menunjukan sebesar 1 persen dari tindakan sirkumsisi mungkin memiliki komplikasi, di antaranya anak tidak bisa kencing selama 12 jam atau lebih. Terlihat adanya darah yang mengalir dari perban, atau bekas luka sirkumsisi. Pembengkakan atau kemerahan yang menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.
“Jika kondisi ini muncul, disertai adanya tanda infeksi seperti nanah, bau tidak sedap, segera konsultasi dengan dokter atau klinik terdekat dari rumah,” jelas dr. Mahdian.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
