
Ilustrasi saraf kejepit
JawaPos.com – Penderita penyakit nyeri pinggang atau bisa dikenal juga dengan istilah saraf kejepit, biasanya sudah berobat ke mana saja untuk mengurangi nyeri. Ada yang sudah berobat ke pengobatan alternative, akupuntur, herbal, urut, dan lainnya namun masih belum kunjung sembuh. Maka kini dunia medis semakin berkembang dengan berbagai teknik pengobatan dengan teknologi canggih.
Beberapa modalitas terapi minimally invasive procedure seperti radio frekuensi dapat dilakukan pada pasien, jika terdapat defisit neurologis yang bersifat progresif atau berat. Selain itu, pembedahan seperti laminektomi atau bedah minimally invasive seperti Percutaneous Endoskopi Lumbar Disectomy (PELD) dan Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD) pun bisa dilakukan.
Keuntungan PELD maupun PLDD, dibandingkan dengan prosedur operasi laminektomi di antaranya sayatan atau luka bekas operasi yang minimal, recovery pasca tindakan cepat, efek samping/ komplikasi paska tindakan ringan, tanpa membutuhkan rawat inap.
Kini PLDD atau yang dikenal awam sebagai teknologi laser bisa mengobati masalah saraf kejepit. Teknologi laser telah banyak digunakan dalam dunia kedokteran, termasuk digunakan untuk mengatasi masalah saraf terjepit akibat penonjolan bantalan sendi tulang belakang, atau dikenal sebagai laser disektomi.
“Sebagai teknologi minimally invasive, laser disektomi dapat dilakukan secara rawat jalan. Keunggulan lainnya, pasien terbebas dari sindrom nyeri paska operasi, lebih hemat biaya, angka keberhasilan tinggi,” kata Pakar Nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Gedung Onta Merah, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, dalam keterangan tertulis, Kamis (1/2).
Mahdian menjamin keamanan penggunaan laser untuk mengatasi masalah saraf terjepit karena herniasi bantalan sendi tulang belakang sudah diakui secara luas. Prosedur ini bahkan sudah dilakukan di banyak negara dengan total pasien yang ditangani mencapai lebih dari 80 ribu orang.
PLDD dilakukan hanya melalui bius lokal, dengan bantuan computed tomographic (CT) dan panduan fluoroskopi. Oleh dokter spesialis bedah saraf, sebuah jarum berukuran 1 mm, dimasukan hingga menuju bantalan sendi yang mengalami herniasi, setelah jarum tepat masuk di pusat dari bantalan sendi, serat optik laser dimasukan melalui lubang jarum menuju bantalan sendi, laser tersebut kemudian membakar inti bantalan sendi tulang belakang sehingga volume bantalan sendi berkurang. Dengan berkurangnya volume bantalan sendi ini, herniasi atau penonjolan yang menekan saraf atau memenuhi rongga tulang belakang, kembali menjadi normal.
“Rasa nyeri saat berjalan, kebas, kesemutan saat bangun dari tidur atau duduk yang selama ini dikeluhkan pasien juga akan hilang, setelah tindakan dilakukan,” ungkapnya.
Tindakan laser disektomi/ PLDD dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitar, baik otot, ligamen maupun struktur tulang belakang. Dalam literatur, tidak disebutkan berapa besar panjang gelombang laser yang digunakan untuk memanaskan bantalan sendi tulang belakang hingga mencair/ menguap dan keluar dari lubang pengeluaran alat endoskopi. Penguapan atau pencairan bantalan sendi ini, diharapkan mampu mengurangi volume bantalan sendi serta menghilangkan penekanan saraf tulang belakang yang menyebakan terjadinya nyeri, inflamasi pada saraf sekitar.
Menurut Mahdian, perubahan kecil volume inti atau tengah bantalan sendi tulang belakang akan mengembalikan benjolan batalan sendi masuk kembali sehingga tampak seperti normal. Dari beberapa penelitian yang dilakukan tingkat efektivitas penggunaan laser untuk mengatasi masalah saraf terjepit sangat bervariasi. Antara 78 – 85 persen jika dilihat dari gejala yang dirasakan pasien, dengan follow-up rata-rata 17-26 bulan pasca tindakan.
“Sebuah review yang dilakukan oleh Gibson dan kawan-kawan dari beberapa literatur di Cochrane dikatakan bahwa, PLDD memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan teknik operasi terbuka atau laminektomi, dalam mengatasi masalah saraf terjepit. Namun PLDD memiliki lebih banyak keunggulan seperti luka sayatan yang minimal, penyembuhan pasca tindakan yang lebih cepat, komplikasi minimal, dengan harga yang relatif lebih murah,” tutupnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
