
Peneliti YLKI Natalya Kurniawati dalam diskusi bersama parenting blogger bertajuk
JawaPos.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebut regulasi tentang periklanan di Indonesia masih lemah sehingga beresiko merugikan konsumen.
Hal itu disampaikan peneliti YLKI Natalya Kurniawati dalam diskusi bersama parenting blogger bertajuk 'Menjadi Ibu Melek Nutrisi Demi Mewujudkan Generasi Emas 2045' di Balai Sarwono, Selasa (19/9).
Natalya menyebutkan, overclaim atau klaim berlebihan tentang fungsi produk dalam beriklan sudah lama menjadi sorotan YLKI. Tidak sedikit iklan produk rumah tangga yang dalam bahasa iklannya, menampilkan fungsi yang tidak sesuai dengan yang seharusnya.
“Ada iklan obat anti nyamuk yang mengesankan produk tersebut juga dapat digunakan sebagai lotion. Ini kan tidak tepat, meski mereka berinovasi, tapi kan pestisida. Bagaimanapun pestisida tidak baik bersentuhan dengan kulit,” papar Natalya.
Terkait produk pangan olahan, Natalya juga menyoroti iklan susu kental manis (SKM) yang menggunakan model anak-anak. SKM yang diketahui bukanlah sebagai produk untuk dikonsumsi anak-anak, namun diiklankan sebagai minuman susu yang diminum anak.
“Cara-cara beriklan ini yang harus menjadi perhatian produsen saat berpromosi. Jangan sampai ketika membuat kreativitas namun menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat, sehingga merugikan konsumen,” ujar peneliti muda ini.
Sementara dari sisi konsumen, regulasi yang ada juga dinilai belum tegas dalam hal penegakan hukumnya mengakibatkan posisi konsumen cenderung lemah.
Etika pariwara yang menjadi acuan produsen dalam beriklan, kata dia, tidak memiliki sanksi yang tegas. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sejatinya memiliki fungsi pengawasan iklan produk pangan, namun lagi-lagi terkendala weweang yang terbatas.
Akibatnya, produsen mengabaikan hak-hak konsumen atas informasi yang tepat tentang produk.
“Pemerintah sebenarnya juga tidak abai mengenai masalah ini, namun terkendala regulasi. Jadi sekarang pekerjaan rumahnya adalah bagaimana agar ada regulasi agar iklan menjadi tertib. Konsumen tidak dirugikan dan produsen juga dapat berkreasi,” pungkas Natalya.
Dia berharap wacana amandeman UU Perlindungan Konsumen adalah langkah awal untuk memperkuat posisi konsumen terhadap industri.
Sementara, Pakar parenting dari Institut Pertanian Bogor, Dwi Hastuti mengkhawatirkan dampak iklan terhadap tumbuh kembang anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak bebas mengakses televisi, yang membuat mereka sebagai konsumen rentan dan menjadi target.
“Iklan tidak memberikan informasi yang utuh kepada konsumen dan pesan iklan ditangkap oleh anak-anak. Sementara anak merupakan salah satu yang mempengaruhi keputusan keluarga, khususnya ibu dalam membeli dan menggunakan suatu produk,” jelas pengajar yang akrab disapa Tuti ini.
Dia mencontohkan iklan sosis yang menggambarkan penyajian yang praktis dan bergizi. Akibatnya, ibu memberikan menu sarapan nasi dengan sosis untuk anak secara berulang-ulang.
“Praktis memang, apalagi bagi ibu yang bekerja. Namun apakah nutrisi anak terpenuhi?,” ujar Tuti mempertanyakan kebiasaan masyarakat saat ini.
Ia menjelaskan, tumbuh kembang anak terutama di masa golden age sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi. Oleh karena itu, kemauan ibu untuk mau sedikit repot menyiapkan menu untuk anak dan tidak terpengaruh promosi iklan adalah kunci dalam menciptaka generasi emas 2045.
“Ïbu harus mampu menjadi konsumen yang cerdas, yang dapat bernegosiasi dengan keinginan anak, mengukur nilai ekonomis suatu produk dan berusaha kuat tidak terpengaruh iklan,” tutup dosen FEMA IPB ini.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
