
Ilustrasi
JawaPos.com - Saat lahir, semua orang mempunyai mata yang silinder. Menurut penelitian yakni 80 persen orang lahir dengan silinder. Namun karena tidak bergejala, orang tidak merasakannya. Serta seiring pertumbuhan sebagian orang akan pulih menjadi normal. Sedangkan pada orang tertentu yang mempunyai genetic atau faktor risiko lebih, kadar silinder akan bertambah.
Spesialis mata dr Sawitri Boengas SpM mengatakan, menyoal menngucek mata, memang terdapat korelasi antara mengucek mata dan silinder. Pertama, ada seseorang yang mengucek mata, karena pada dasarnya sudah mempunyai kelainan refraksi. ’’Jadi setelah diucek, dia mengharap matanya menjadi lebih jelas dan fokus,’’ tambahnya.
Kedua, memang tidak bisa dipungkiri, bila sedikit-sedikit mengucek mata, bisa membuat kornea menjadi trauma. Karena ketika kita mengucek mata, bisa jadi dalam tangan terdapat kotoran yang membuat mata terluka. Apalagi bila ketika mengucek tidak pelan-pelan. Akhirnya mempercepat keadaan mata menjadi silinder. Ketiga, bisa jadi seseorang sering mengucek matanya karena alergi, dan bila sudah begini harus diobati alerginya supaya tidak membuat mengucek mata kembali.
Karena itu, bila merasakan kejanggalan pada mata, Sawitri lebih menganjurkan untuk mengompres mata dengan air hangat, bukan air dingin, sekedar berkedip-kedip saja, atau bahkan mengistirahatkan mata sebentar.
Sawitri juga menambahkan, silinder tidak bisa dicegah. Apalagi silinder karena genetic. Yang bisa dilakukan hanya memperlambat proses terjadinya silinder. Misalnya tidak menjadikan mata menjadi lelah. Ketika membaca jarak antara buku dengan mata minimal 30 sentimeter, pencahayaan ruangan yang cukup, kontras dalam komputer yang cukup, dan semakin besar sebuah layar sebaiknya membuat penontonnya semakin mundur.
Untuk diketahui, silinder pada anak-anak dibutuhkan kepekaan dari orang tuanya untuk mengontrol. Terutama bila seorang anak ketika melihat matanya menyipit, nonton tv dengan kepala yang dimiring-miringkan, atau terlalu dekat.
Sebaiknya orang tua harus memeriksakan mata anaknya. Karena sejatinya, seorang anak tidak tahu penglihatan yang ideal itu seperti apa. ’’Jadi apa yang mereka lihat, itulah dunia sebenarnya, mereka belum tau normal seperti apa,’’ tegasnya. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
