
Aksi sejumlah aktivis kesehatan soal bahaya susu kental manis
JawaPos.com – Pakar gizi dari Universitas Indonesia (UI) Ahmad Syafiq menyatakan susu kental manis aman dikonsumsi oleh masyarakat.
Hal itu karena susu kental manis juga memiliki kandungan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan gizi masyarakat, termasuk anak-anak.
“Susu kental manis tidak masalah dikonsumsi secara proporsional. Tapi kalau sudah berlebih, apapun itu tidak boleh. Prinsipnya seperti
itu,” ujar Syafiq di Jakarta, (16/8).
Pernyataan tersebut, sekaligus membantah isu yang merebak perihal bahaya dalam mengkonsumsi susu kental manis.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan dampak konsumsi susu kental manis karena dinilai mengandung kadar gula yang tinggi. Kondisi ini
berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak-anak akibat asupan gizi tidak seimbang.
Namun, Syafiq memastikan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya. Menurut dia, selama asupan gizi masih proporsional atau cenderung
kurang, maka tidak ada persoalan dalam meminum susu kental manis.
“Gula memang tidak boleh dikonsumsi banyak-banyak, tapi dengan catatan semua gizinya sudah terpenuhi,” terangnya.
Dia pun tidak sepakat jika konsumsi susu kental manis dianggap akan mengganggu pertumbuhan gizi masyarakat. Menurut dia, gangguan
terhadap tumbuh kembang anak dan asupan gizinya tidak bisa dialamatkan kepada salah satu produksi makanan atau minuman saja.
“Tidak bisa di-generalisir seperti itu, karena pola makan sehat itu mesti dilihat secara keseluruhan dan bukan dari konsumsi tertentu
saja. Itu yang disebut pemahaman terhadap keseimbangan zat gizi,” kata dia.
Kementerian Kesehatan pada 2015 lalu menggelar Survei Diet Total untuk masyarakat Indonesia. Syafiq mengatakan, salah satu hasil
riset menunjukan bahwa masyarakat Indonesia masih kekurangan pasokan energi.
Itu belum termasuk kekurangan asupan gizi lainnya, sehingga konsumsi gula secara wajar tidak menjadi persoalan karena unsur makanan
ini adalah sumber energi.
Kondisi tubuh yang kekurangan energi, kata Syafiq, justru berbahaya bagi tumbuh kembang anak. Sebab, tubuh secara otomatis akan
memenuhi kebutuhan energinya dengan mengambil protein dan lemak pada tubuh.
Padahal, dua unsur makanan tersebut merupakan kebutuhan utama bagi pertumbuhan anak-anak. “Jadi protein yang diperlukan untuk tumbuh
tidak ada karena diambil untuk kebutuhan energi,” ujar pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.
Vita Datau Mesakh, Ketua Akademi Gastronomi Indonesia menambahkan produk olahan susu juga banyak digunakan untuk berbagai kuliner di
Indonesia yang dikembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Susu yang merupakan salah satu komoditas utama dalam mendorong perekonomian nasional melalui UMKM," kata dia.
Menurut dia, isu malnutrisi global dapat diatasi dengan adanya peran dari susu, yang memiliki kandungan nutrisi penting layaknya
Vitamin B2 dan B12, mineral, dan protein. Di Indonesia, permasalahan kekurangan gizi masih tersebar luas dan ini menjadi perhatian
khusus dari Pemerintah.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
